Hukum Muslim Merayakan Tahun Baru Imlek

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

Riyadh-KSA, 29 Rabi’ul Awwal 1434 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang China. Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (bahasa China: 正月; pinyin: zhēng yuè) di penanggalan China dan berakhir dengan Cap Go Meh 十五冥 元宵节 di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru Imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti “malam pergantian tahun”.

Di China, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Imlek secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan China di luar RRC seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 masehi “Tahun China” didapat pada tahun 4707, 4706, atau 4646.

Dirayakan di daerah dengan populasi suku China, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang China dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis RRC, serta budaya yang dengannya orang China berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di daratan RRC, Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Di Indonesia, Sejak tahun 1968 s/d 1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang untuk dirayakan di depan umum. Hal itu berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, yang dikeluarkan oleh Presiden Soeharto. Serta melarang segala hal yang berbau China, termasuk di antaranya tahun baru Imlek.

Namun, sejak kepemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, masyarakat keturunan China di Indonesia, kembali mendapatkan kebebasan dalam merayakan tahun baru Imlek, yaitu di mulai pada tahun 2000. Di mana, Presiden Abdurrahman Wahid secara resmi mencabut Inpres Nomor 14/1967. Serta menggantikannya dengan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Selanjutnya, baru pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu Hari Libur Nasional, oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003 hingga saat ini. (Sumber: Wikipedia)

Kali ini Rumaysho.com akan menjelaskan hukum merayakan imlek bagi seorang muslim.

Masuk Dalam Islam Secara Kaffah

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaaffah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).

Kata Mujahid, maksud ‘masuklah dalam Islam secara keseluruhan‘ berarti “Lakukanlah seluruh amalan dan berbagai bentuk kebaikan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir). Artinya di sini, jika suatu kebaikan bukan dari ajaran Islam, maka seorang muslim tidak boleh bercapek-capek melakukan dan memeriahkannya. Karena kita diperintahkan dalam ayat untuk mengikuti seluruh ajaran Islam saja, bukan ajaran di luar Islam.

Ketika menjelaskan ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Laksanakanlah seluruh ajaran Islam, jangan tinggalkan ajaran Islam yang ada. Jangan sampai menjadikan hawa nafsu sebagai tuan yang dituruti. Artinya, jika suatu ajaran bersesuaian dengan hawa nafsu, barulah dilaksanakan dan jika tidak, maka ditinggalkan,. Yang mesti dilakukan adalah hawa nafsu yang tunduk pada ajaran syari’at dan melakukan ajaran kebaikan sesuai kemampuan. Jika tidak mampu menggapai kebaikan tersebut, maka dengan niatan saja sudah bisa mendapatkan pahala kebaikan.” Lihat Taisir Al Karimir Rahman karya Syaikh As Sa’di tentang tafsiran ayat di atas.

Islam Hanya Mengenal Dua Hari Raya Besar

Dalam Islam, hari raya besar itu cuma dua, tidak ada yang lainnya, yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Kalau dikatakan bahwa dua hari raya di atas (Idul Fithri dan Idul Adha) yang lebih baik, maka selain dua hari raya tersebut tidaklah memiliki kebaikan. Termasuk dalam hal ini perayaan yang diadakan oleh sebagian muslim berdarah China yaitu perayaan Imlek. Sudah seharusnya setiap muslim mencukupkan dengan ajaran Islam yang ada, tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Karena Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS.Al Maidah: 3).

Kalau ajaran Islam sudah sempurna, maka tidak perlu ada perayaan baru lagi.

Perayaan di luar dua perayaan di atas adalah perayaan Jahiliyah karena yang dimaksud ajaran jahiliyah adalah setiap ajaran yang menyelisihi ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga merayakan perayaan selain perayaan Islam termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ مُلْحِدٌ فِى الْحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ

Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari no. 6882).

Itu Bukan Perayaan Umat Islam

Apalagi jika ditelusuri, perayaan Imlek ini bukanlah perayaan kaum muslimin. Sehingga sudah barang tentu, umat Islam tidak perlu merayakan dan memeriahkannya. Tidak perlu juga memeriahkannya dengan pesta kembang api maupun bagi-bagi ampau, begitu pula tidak boleh mengucapkan selamat tahun baru Imlek.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud no. 4031 dan Ahmad 2: 92. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Tidak boleh pula seorang muslim bersikap boros pada perayaan non-muslim dengan memeriahkannya melalui pesta kembang api. Allah Ta’ala berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27)

Memberi ucapan selamat tahun baru Imlek, ada yang mengucapkan do’a ‘gong he xin xi’ (hormat bahagia menyambut tahun baru) atau ‘gong xi fa cai’ (hormat bahagia berlimpah rejeki) pun terlarang. Hal ini disebabkan karena telah ada klaim ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa mengucapkan selamat atau mendoakan untuk perayaan non-muslim itu haram. Ijma’ adalah satu dalil yang menjadi pegangan. Nukilan ijma’ tersebut dikatakan oleh Ibnul Qayyim, di mana beliau rahimahullah berkata,

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم ، فيقول: عيد مبارك عليك ، أو تهْنأ بهذا العيد ونحوه ، فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثماً عند الله ، وأشد مقتاً من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس ، وارتكاب الفرج الحرام ونحوه ، وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّأ عبداً بمعصية أو بدعة ، أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal dan selamat tahun baru imlek, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441).

Kalau dikatakan para ulama sepakat, maka itu berarti ijma’. Dan umat tidak mungkin bersepakat dalam kesesatan, sehingga menyelisihi ijma’ itulah yang terkena klaim sesat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An Nisa’: 115).

Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) ulama kaum muslimin.

Bersikap toleran bukan berarti membolehkan segala hal yang dapat meruntuhkan akidah seorang muslim. Namun toleran yang benar adalah membiarkan mereka merayakan tanpa perlu loyal (wala’) pada perayaan mereka.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Advertisements

Maklumat MUI Sumatera Barat, Larangan Perayaan Hari Valentine

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لا نبي بعده
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا ُأَغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَّاصِرِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ.

Bersama ini kami sampaikan kepada seluruh umat Islam, terutama di Sumatera Barat bahwa Perayaan hari valentine (valentine day) adalah tradisi yang berasal peristiwa sejarah dan keyakinan agama tertentu di luar Islam bahkan bahkan menjadi ritual ibadah di tengah-tengah mereka. Perayaan hari valentine (valentine day) merupakan hari mengumbar nafsu syahwat yang berdampak kepada terjadinya pergaulan bebas, perzinaan dan kemaksiatan lainnya di tengah masyarakat khususnya di kalangan muda-mudi.

Memperhatikan berbagai fakta di atas maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Barat menyatakan bahwa: terlibat dalam kegiatan hari valentine dalam bentuk apapun apalagi sampai merayakannya, bagi umat Islam adalah haram karena ikut memasyarakatkan kemaksiatan, mensyiarkan kekufuran, melibatkan diri dalam ritual/ibadah agama lain dan menyerupai kaum kafir dalam hal yang terlarang untuk menyerupai mereka. Keseluruhan prilaku tersebut telah dilarang oleh Allah سبحانه و تعالى  dan Rasul-Nya dalam Al-Quran dan Sunnah.

Akhirnya kami menghimbau umat Islam, mari kita senantiasa berpegang teguh dengan ajaran agama kita (Islam) dan menjauhkan diri dari pengaruh ajaran agama lain agar selamat dunia dan akhirat. Amin.

Demikianlah Maklumat ini disampaikan, semoga dapat dipahami dan diamalkan.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Padang, 27 Jumadil Ula 1439 H / 13 Februari 2018 M

Komisi Fatwa MUI
Provinsi Sumatera Barat

dto                                                                                                                                                      dto

Dr. H. Zulkarnaini, M.Ag                                                                            Dr. Zainal Azwar, M.Ag
Ketua                                                                                                                                      Sekretaris

 

Mengetahui
Majelis Ulama Provinsi Sumbar

dto                                                                                                                                                       dto
Buya Gusrizal Gazahar, Lc, M.Ag                                                              Buya Zulfan, S.Hi, M.H
Ketua Umum                                                                                                           Sekretaris Umum

Pepatah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

  •  Hari ini (di dunia) amal perbuatan tanpa hisab dan esok hari (di akhirat) hisab tanpa beramal.
  • Timbulnya fitnah pertama kali disebabkan oleh hawa nafsu yang dituruti dan hukum-hukum ciptaan manusia yang diikuti.
  • Yang paling bermanfaat bagi masyarakat ialah matinya para penjahat.
  • Apabila Anda lelah karena melakukan kebajikan, maka kelelahan Anda akan hilang dan kebajikan tetap adanya.
  • Cinta asmara adalah suatu kelelahan yang kebetulan berjumpa dengan hati yang kosong.
  • Wara’ yang paling baik ialah menjauhi segala yang syubhat (segala hal yang meragukan).
  • Keimanan berdiri diatas empat pilar : kesabaran, keyakinan, keadilan dan jihad.
  • Hadiah dapat mencegah keresahan di dunia dan sedekah akan mencegah keresahan di akhirat.
  • Jangan malu memberi yang sedikit karena tidak memberi adalah lebih sedikit dari itu.
  • Awal mula menuntut ilmu diam. Yang kedua mendengar dengan tekun. Yang ketiga faham dan hafal. Yang keempat mengamalkannya. Yang kelima menyebarluaskannya.
  • Tuntutlah ilmu sejak kecil, agar dikemudian hari Anda menjadi pemimpin. Tuntutlah ilmu meskipun bukan karena Allah. Sesungguhnya kelak ilmu itu akan menjadi karena Allah.
  • Alangkah indahnya mahkota tetapi lebih indah jika ada di kepala raja. Alangkah indahnya mutiara (perhiasan), tetapi lebih indah jika ia menghias leher si gadis. Alangkah indahnya nasihat dan pelajaran, tetapi seorang alim yang takwa dan shaleh lebih indah dari semua itu.
  • Mendengar dari satu pihak masih gelap dan mendengar dari dua belah pihak akan menjadi terang (persoalannya).
  • Menjadi orang yang kalah tetapi benar (adil), lebih baik daripada menang tapi zalim.
  • Hak harus diperjuangkan dengan gigih, kalau tidak maka Hak pasti dizalimi oleh kebatilan.
  • Alangkah sulitnya melakukan kebajikan dan alangkah mudahnya merusaknya.
  • Paling baik kebanggaan ialah Anda tidak bangga.
  • Tinggalkanlah dosa-dosa sebelum dosa-dosa itu meninggalkan Anda.
  • Safar (perjalanan) adalah sebagian dari siksaan tetapi tidak banyak orang yang menyadarinya.
  • Seorang jahil tampak kecil walaupun sudah lanjut usia dan seorang alim tampak tua walaupun muda usia.
  • Didiklah keluarga dan anak-anak Anda hidup sederhana. Apabila kelak mereka hidup sederhana tidak akan mengeluh.
  • Jangan terlalu mengandalkan kesehatan dan kekayaan, karena dalam sekejap ia dapat berobah menjadi penyakit dan kemiskinan.
  • Menolak dengan sikap yang baik adalah lebih baik daripada menjanjikan untuk waktu yang belum pasti.
  • Janji ibarat wajah dan menepati janji ibarat kecantikan wajah.
  • Hari Raya ialah hanya bagi orang yang diterima Allah shaumnya dan disyukuri shalat malamnya (qiyaam). Tiap hari dimana di dalamnya tidak berbuat maksiat kepada Allah, maka itulah Hari Raya.
  • Yang sedikit dari Allah lebih mulia dan terhormat daripada yang banyak dari manusia, meskipun kedua-duanya dari Allah.
  • Tidak ada perdagangan yang lebih baik daripada amal shaleh dan tidak ada keuntungan yang lebih baik daripada pahala dari Allah.
  • Rezeki ada dua macam, yaitu yang Anda berupaya mencarinya dan yang datang sendiri mencarimu.
  • Barangsiapa ridho dengan rezeki pemberian Allah, maka dia tidak akan menyesali apa yang terlepas dari tangannya.
  • Tiap kenikmatan ada kunci pembuka dan selot penutupnya. Kuncinya adalah usaha dan sabar dan selot penutupnya adalah kemalasan.
  • Segala sesuatu ada tenggang waktu dan ajalnya.
  • Seseorang yang berakal mengambil pelajaran dari pendidikan adab (sopan santun, tata cara) dan binatang mengambil pelajaran dari pukulan (cambuk).
  • Akal seorang penulis terletak pada penanya.
  • Seorang yang arif membeli buku untuk dibaca dan dikaji, dan bukan untuk jadi hiasan lemari.
  • Lidah adalah alat untuk menerjemahkan apa yang ada dalam hati Anda, maka janganlah mengucapkan sesuatu yang tidak ada pada hati nurani Anda.
  • Perbanyaklah bergaul dengan Ulama dan berdialog (diskusi) dengan para arif dan bijaksana.
  • Jangan mengokohkan kekuasaan dengan mengalirkan darah orang-orang yang tidak berdosa.
  • Berpikirlah positif, tidak peduli seberapa keras kehidupanmu.
  • Orang yang kikir (pelit) mengumpulkan harta untuk ahli warisnya, sedang dia sendiri tidak menikmatinya dalam kehidupannya. Ini ibarat anjing pemburu yang menangkap mangsa untuk dimakan orang lain.
  • Tiap orang mempunyai dua mitra usaha dalam harta miliknya, yaitu ahli warisnya dan peristiwa (kejadian/musibah) yang datang dengan tiba-tiba.
  • Permusuhan kaum lemah (miskin) terhadap yang kuat, kaum yang buruk perangainya terhadap kaum yang arif bijaksana dan permusuhan orang-orang jahat terhadap yang baik, adalah tabiat masyarakat yang tidak dapat dirobah.
  • Musuh yang paling ringan makarnya terhadap Anda ialah yang paling terang-terangan memusuhi Anda.
  • Apabila orang berprasangka baik terhadap Anda, maka jagalah prasangkanya itu.
  • Bukanlah kebaikan kalau ia dicapai dengan kejahatan.
  • Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.
  • Seburuk-buruk bekal di akhirat ialah menzalimi rakyat.
  • Alangkah indahnya kerendahan hati orang kaya terhadap fakir miskin.
  • Berbahagialah orang yang dapat menjadi tuan bagi dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya, dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya.
  • Kawan setia adalah keluarga sejiwa dan saudara kandung adalah keluarga sedarah daging.
  • Menjauhnya keluarga dekat lebih menyakitkan daripada pukulan orang yang tidak dikenal.
  • Seorang pengecut ialah yang berani terhadap kawan tetapi takut kepada lawan.
  • Ucapan sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yang diwarisi nenek moyang.
  • Kawan Anda yang paling setia ialah yang memelihara kesetiakawanan dalam tiga hal, yaitu : ketika Anda terkena musibah, ketika Anda tidak disampingnya dan sesudah Anda wafat.
  • Jangan menjadikan musuh kawanmu sebagai kawan, karena itu berarti memusuhi kawanmu.
  • Orang yang tidak mengindahkan (memperdulikan) Anda itulah sebenarnya musuh Anda.
  • Seorang yang iri dengki merasa bahwa hilangnya kenikmatan Anda adalah sesuatu kenikmatan baginya.
  • Jangan iri dan dengki, sesungguhnya iri dengki akan menggerogoti iman sebagaimana api menggerogoti kayu bakar.
  • Siksalah para pendengki Anda dengan menyantuni mereka.
  • Orang yang paling keji ialah yang mengadukan orang yang lemah kepada penguasa yang zalim.
  • Empat perkara yang kecilnya adalah besar, yaitu : api, permusuhan, penyakit dan kemelaratan.
  • Apabila Anda takut sesat maka jalan itu jangan Anda lalui.
  • Hanya pembohong saja yang mau makan harta anak yatim.
  • Senjata kepemimpinan adalah lapang dada.
  • Kematian ibarat panah yang diarahkan kepada Anda, dan umur Anda sekedar perjalanan panah itu kepada Anda.
  • Muliakanlah keluargamu karena mereka adalah sayap Anda untuk bisa terbang.
  • Sebaik-baik negeri ialah yang dapat menampung Anda dengan baik (terhormat).
  • Kalau penguasa berganti zaman pun berubah.
  • Serulah kepada yang ma’ruf (kebaikan) agar Anda menjadi walinya.
  • Jika memang harus ada fanatisme dan radikalisme, hendaklah keduanya itu diterapkan terhadap akhlak yang mulia dan amal perbuatan yang terpuji.
  • Tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada akal yang diperindah dengan ilmu, dan ilmu yang diperindah dengan kebenaran (siddiq) dan kebenaran yang diperindah dengan kebaikan dan kebaikan yang diperindah dengan takwa.
  • Barangsiapa menentang Hak (Kebenaran), dia pasti akan dikalahkan.
  • Ya Allah aku bersyukur Engkaulah Tuhanku karena Engkaulah yang Hak dan aku bahagia dengan kemuliaan Islam-Mu dan aku adalah hamba-Mu.
رَبَّنا أَفرِغ عَلَينا صَبرًا وَثَبِّت أَقدامَنا وَانصُرنا عَلَى القَومِ الكٰفِرينَ

The Noble Character of Diffidence

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

His Eminence Sheikh Maher al-Me’eqli –May Allah protect him– delivered this Friday khutbah (02/05/1439 – 19/01/2018, المسجد الحرام مكة المكرمة) titled “The Noble Character of Diffidence” in which he talked about one of the Islamic noble characters that is linked to faith and Islam. It is the noble character of diffidence. He pointed out to its merit and the status of those who adorn themselves with it while explaining its impact on the whole Muslim society. Also, the Sheikh did not skip calling women’s attention to the fact that diffidence is one of the greatest distinguishing features of the Muslim woman.

 

Part One  

Praise be to Allah! Praise be to Allah, the Possessor of Favours and Beneficence, Who has made diffidence one of the constituting parts of belief. I bear witness that there is no deity save Allah, alone with no associate, [Whosoever is in the heavens and on earth begs of Him (its needs from Him). Every day He has a matter to bring forth (such as giving honour to some, disgrace to some, life to some, death to some, etc.)!] [Ar-Rahman: 29]

I bear witness that Muhammad is Allah’s Servant and Messenger, who was sent to all members of the thaqalain: mankind and jinn. May Allah send His Salat (Graces, Honours, Mercy), Peace and Blessing upon him, his Family, Companions and all those who righteously follow in their footsteps until the Day of Judgement!

 

Now then, O believers!

Observe taqwa (fear) of Almighty Allah, and show true diffidence vis-à-vis Him, and bear in mind that He is watching you wherever you are. He –May He be glorified– hears and sees what you are saying and doing.

[O you who believe! Fear Allâh (by doing all that He has ordered and by abstaining from all that He has forbidden) as He should be feared. [Obey Him, be thankful to Him, and remember Him always], and die not except in a state of Islâm (as Muslims) with complete submission to Allâh.] [Ali Imran: 102]

 

O Muslim Ummah!

 

Calling to high moral standards is one of the most important objectives of the mission of the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him! In “Imam Ahmad’s Musnad” (a collection of hadith), via an authentic chain of narration, the Messenger of Allah –May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ is reported to have said: “Indeed, I was sent to complete high moral standards.

 

High moral standards and belief go hand in hand. Abu Hurairah ‒May Allah be pleased with him‒ reported the Messenger of Allah –May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ to have said: “The believer with most perfect faith is the one with the highest moral standards.” [Narrated by Abu Dawood in his Sunan (a collection of hadith) with an authentic chain of narration]

Faith ‒O servants of Allah‒ gets greater and more perfect with perfect high moral standards. Moreover, high moral standards tip the balance and elevate one’s belief to perfection. Among the high moral standards that are associated with faith is diffidence. The less diffident one is, the less faith he has. In Al-Hakim’s Mustadrak (a collection of hadith), via an authentic chain of narration, Ibn Omar ‒May Allah be pleased with him and his father‒ reported the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– to have said: “Diffidence and faith are firmly intertwined. Should one be gone, the other goes, too.”

Explaining that diffidence has an edge over all other moral standards, the Prophet ‒May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ said: “Every religion has a distinct moral standard, and the distinct moral standard of Islam is diffidence.” [Narrated by Ibn Majah with a good chain of narration]

The presence of diffidence adorns everything, but the absence of same would make everything vile. Ibn al-Qayyim –May Allah bless his soul– said:

Diffidence is the origin of all good; it is the best, the most sublime, the most valuable and the most beneficial of all moral standards. Had it not been for this particular moral standard, no promise would have been kept, trust rendered, hand lent in time of need, good deed observed or bad deed avoided. Without it, no faults would have been concealed and no major sins would have been shunned.

Were it not for diffidence, many people would not have performed any of their duties, and would have hesitated to give others their dues; they would not have maintained their connections with their relatives or showed obedience to their parents.

Diffidence ‒O servants of Allah‒ is the moral standard of prophets, messengers, and the Companions and the tabi’in (the contemporaries of the Companions of the Prophet ‒May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ after his death) who followed in their path.

Here is what the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– said about Musa (Moses) ‒Peace be upon him: “Moses was a diffident person and very careful about covering himself; nothing of his skin could be seen, out of diffidence.” [Narrated by al-Bukhari]

 

As to our Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– he occupies the loftiest ranks of diffidence. Describing the Prophet ‒May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ Abu Sa’eed al-Khudri –May Allah be pleased with him– said: “The Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– was more diffident than a virgin girl in her boudoir. When he did not like something, we knew it from his face.” That is to say, when he did not like something, he would not talk about it out of diffidence. Rather, his face would change, and thus his Companions would understand his aversion of the point at issue.

In the two sahihs (two collections of hadith: one by Imam Bukhari and the other by Imam Muslim), Aisha –May Allah be pleased with her‒ said: “A woman asked the Prophet ‒May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ about how to bathe herself after her menses are over. The Prophet told her how to do that and added: Then, clean yourself with a piece of cloth scented with musk. The woman asked: ‘How shall I clean myself with it?’ The Prophet ‒May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ felt diffident, turned his face away and said: Clean yourself with it, Subhana Allah (Glory be to Allah)!” Aisha said: “I pulled her aside and told her what the Prophet ‒May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ meant to say.”

The Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– would feel embarrassed to let his guests know that they have overstayed their welcome and have talked for a long time in his house. Therefore, Allah –Glorified and Most High be He– revealed the following verse:

[… and when you have taken your meal, disperse, without sitting for a talk. Verily, such (behaviour) annoys the Prophet, and he is shy of (asking) you (to go), but Allâh is not shy of (telling you) the truth.] [Al-Ahzab: 53]

The Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– once passed by a man censuring his brother on account of diffidence. He heard him saying to him: “You are diffident!” It was as if he were saying: “It (diffidence) is harming you.” The Messenger of Allah ‒May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ said to him: “Leave him. Diffidence is part of faith.” [Narrated by al-Bukhari]

For this reason, the Prophet’s Companions ‒May Allah please them and be pleased with them‒ used to instil in their children the noble character of diffidence and to bring them up on it as the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ did with them.

Abdullah ibn Omar –May Allah be pleased with him and his father– who was a young boy attending the meetings of the Messenger of Allah –May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ said: “Allah’s Messenger ‒May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ said: ‘Amongst the trees, there is a tree the leaves of which do not fall, and it is like a Muslim. Tell me the name of that tree.’ “Everybody started thinking about the trees of the desert areas. And I thought of the palm tree but felt diffident to answer. The others then asked: ‘What is that tree, O Allah’s Messenger?’ “He replied: It is the palm tree.’” [Narrated by Imam Bukhari and Imam Muslim]

Diffidence, on top of everything, is an attribute of the Lord –May He be glorified and His Names be sanctified! The diffidence of the Lord –Glorified and Most High be He– is an attribute of open-handedness, generosity, kindness, and sublimity. He –May He be exalted– is so diffident and generous vis-à-vis his servants that, if they raised their hands in supplication, He would not turn them empty-handed. He is also too diffident to torture those who grew old in Islam.

It has been mentioned in the athar [It refers to the sayings, actions and consent of the Companions ‒May Allah be pleased with them all!] that the Lord –to Whom belong Glory and Majesty– says: “My servant is not fair to me: He invokes me and I am too considerate not to answer his invocation; yet, he disobeys me shamelessly.”

The true Muslim –O servants of Allah– will be too embarrassed when he feels that the Creator is looking at him, and will not hesitate to obey Him, or forget to thank Him for His graces. He will avoid to be seen where Allah has forbidden him to be and will not be missed where Allah has ordered him to be. Allah –May He be glorified and His Names sanctified– deserves to be shown consideration more than anyone else, and that what the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– exhorted his Companions to do.

It is narrated in Mu’jam al-Tabarani that a man asked the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him: “Give me advice!” The Prophet said: “I advise you to show Allah diffidence as you do a righteous man of your people.

In the Jami’ (a collection of hadith) of al-Tirmidhi, via a good chain of narration, Abdullah ibn Mas’ood ‒May Allah be pleased with him‒ reported the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– to have said: “Show Allah true diffidence.” Abdullah ibn Mas’ood said: “We said We are all diffident, thank Allah.” The Prophet said: “That’s not what I meant. Showing Allah true diffidence means to protect the head and what it contains, the stomach and what goes into it, and to remember death and decomposition. He who seeks the Hereafter would renounce the ornaments of the Herein. He who does this will have shown Allah true diffidence.”

In this great hadith, the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– pointed out to four matters that included all types of good :

1. To protect the head and what it contains which means that you will not prostrate yourself except to Allah or raise this head in pride vis-à-vis Allah. This includes protecting one’s ears, eyes, and tongue from whatever Allah has forbidden.

[And follow not (O man i.e., say not, or do not or witness not, etc.) that of which you have no knowledge (e.g. one’s saying: “I have seen,” while in fact he has not seen, or “I have heard,” while he has not heard). Verily! The hearing, and the sight, and the heart, of each of those you will be questioned (by Allâh).] [Al-Isra’: 36]

2. To protect the stomach against eating prohibited food, and to safeguard the body parts that are related to it: the heart, the hands, the private parts, and the feet.

In the Sahih (a collection of hadith) of al-Bukhari, the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– is reported to have said: “Whoever gives me a guarantee to safeguard what is between his jaws and what is between his legs, I shall guarantee him Jannah (Paradise).” Once man’s heart is full of diffidence towards Allah, this diffidence will lead him to safeguard his head and stomach against Almighty Allah’s prohibitions.

3. Then, the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him‒ mentioned two great matters. He said: “Remember death and decomposition. He who seeks the Hereafter would renounce the ornaments of the Herein.” Indeed, whoever remembers that he will die and decompose, and that he will stand before Allah –Glorified and Most High be He– and that Allah will bring him to account on the Day of Judgement for what he had done in this worldly life, he will truly feel diffident that he might meet Allah on the Day of Judgement with bad and disgraceful deeds.

 

When one of the tabi’in was on his deathbed, he began crying bitterly; when he was admonished for doing so, he said: “I swear by Allah that even if I were granted forgiveness from Allah –Glorified and Most High be He– I would be anxious to feel diffident vis-à-vis Him for what I had done. By analogy, a person may forgive another’s small offence, but still the latter continues to feel diffident vis-à-vis him.

 

O believers!

 

Diffidence is a sign of a preponderant mind. It is a rule of conduct with people, a path for good and righteousness; it is happiness and success in this worldly life and the hereafter. Diffidence is the motto of the pious, the cover of the righteous, and Allah’s protecting garment for His believing servants. However, if Allah’s servant insists on sinning and wrongdoing and does not seek repentance, then he will be divested of diffidence. As a consequence, whoever is divested of diffidence will soon perish, for he will go too far in pursuing his desires, and as a result his defects will surface and good qualities will be buried, and he will be insignificant in Allah’s view.

Ibn al-Qayyim –May Allah bless his soul‒ said: “Haya’ (Diffidence) is derived from hayat (life). Therefore, whoever has no diffidence is dead in this worldly life and wretched in the Hereafter. For, there is inseparableness between sins, shamelessness, and lack of jealousy, each of which calls for the other. Indeed, whoever feels diffident vis-à-vis Allah upon disobeying Him, Allah will feel diffident vis-à-vis punishing him on the Day of Judgement, and whoever does not feel diffident vis-à-vis Allah, the Almighty, and vis-à-vis disobeying Him, then Allah will not feel diffident vis-à-vis punishing him.

                                                                                                                             

O Muslim Ummah!

Among the manifestations of shamelessness is the prevalence of obscene words, of disgraceful forms of behaviour, of men imitating women (in appearance), of women imitating men (in appearance), of lying, of deception, and of disrespect for other people’s feelings. Such manifestations show up especially in social media where one should observe, as he should everywhere else, good manners, morals, and conventions.

Another major manifestation of shamelessness is to commit sins and wrongdoings publicly. This is a cause for the lack of wellbeing in this life and the Hereafter. In the two Sahihs, the Prophet –May Allah’s Salat and Peace be upon him– is reported to have said: “Every one of my Ummah will be forgiven on the Day of Judgement except those who commit wrongdoings in public. An example of this is that of a man who commits a sin at night which Allah has concealed, but in the ensuing morning, he would say: ‘O you so and so! I committed such and such sin last night.’ While Allah had kept it a secret by night, he disclosed it by morning.”

 

(The Sheikh quotes two lines of poetry that can be rendered as follows):

            By Allah, there is no good in living

            Nor is there good in this worldly life if diffidence is gone.

            For a man will live well as long as he is diffident,

            In the same way a twig continues to be as long as it is covered by its bast.

Then, you should know –O believers– that there are three things which stir diffidence in man’s heart vis-à-vis Allah –May He be exalted: Glorifying Allah, loving Him, and being conscious that He sees and knows everything. So when a man’s heart glorifies its Lord, loves Him –May He be elevated– is aware that He knows and sees everything, the heart will then be moved out of diffidence vis-à-vis Allah –Glorified be He!

 

I seek refuge with Allah from the accursed Satan:

(Indeed Allâh conferred a great favour on the believers when He sent among them a Messenger (Muhammad صلى الله عليه وسلم) from among themselves, reciting unto them His Verses (the Qur’ân), and purifying them (from sins by their following him), and instructing them (in) the Book (the Qur’ân) and Al­ Hikmah [the wisdom and the Sunnah of the Prophet SAW (i.e. his legal ways, statements, acts of worship, etc.)], while before that they had been in manifest error.) [Ali Imran: 164]

May Allah grant us the blessing of the Qur’an and the Sunnah, and may He benefit us with the signs and wisdom they contain. I say this and pray Allah to forgive me and you, so do pray Him for forgiveness, for He is indeed Oft-Forgiving.

 

Part Two

 

Praise be to Allah! Praise be to Allah Who is praised by all existing creatures and to Whose Grandeur and Glory faces are humbled! I bear witness that there is no deity except Allah alone with no associate. I also bear witness that Muhammad is His Servant and Messenger. May Allah send His profuse Salat, Peace and Blessing upon him, his Family, and Companions!

 

Now then, O believers!

If diffidence is, in men, a sign of knightly virtues and noble character, it is then in women adornment, beauty, privilege and perfection. Women are indeed more entitled to diffidence than men.

 

 In the Qur’an, Allah has eternalised that woman’s story with Allah’s prophet Musa –Peace be upon him– her diffidence, and good behaviour. She walked towards him with shyness and talked to him using a few unsubmissive words.

(Then there came to him one of the two women, walking shyly. She said: “Verily, my father calls you that he may reward you for having watered (our flocks) for us.”) [Al-Qasas : 25]

 

In the Sahih (a collection of hadith) of al-Bukhari, Umm Sulaim –May Allah please her and be pleased with her– came over to Allah’s Messenger ‒May Allah’s Salat and Peace be upon him– and asked him about a woman seeing in her night dream what men usually see (wet dreaming). Umm Salamah covered her face out of diffidence and said: “May your hands be smeared with dust [Taribat yadak (تربت يداك), (Thakilatka Ummuk ثكلتك أمك), and the like, are phrases that may sound evil, but they bear the opposite meaning, as Arabs rather use them as terms of endearment], O you Umm Sulaim! You have disgraced women in front of Allah’s Messenger – May Allah’s Salat and Peace be upon him!

Look ‒O servants of Allah‒ how diffidence has overcome Umm Salamah –May Allah please her and be pleased with her– to the extent that she covered her face, though the only ones present were her husband (the Prophet) and the woman asking the question.

O believers!

When diffidence prevails in the Muslim society, then its members’ morality will be elevated to sublimity. It will spread amongst them good traits, commendable virtues, and will bring them only good. In the Sahih (a collection of hadith) of Imam Muslim, Allah’s Messenger –May Allah’s Salat and Peace be upon him– is reported to have said: “Diffidence is complete good, and diffidence does not bring anything but good.

O Allah! Guide us to the best morals, for none guides to the best morals but You, and shove away from us the worst morals, for none shoves away the worst morals but You!

O Allah! We ask You to grant us guidance, piety, honour, and wealth, by Your Mercy, O You the Most Merciful!

O Allah! Send Your Salat upon Muhammad and the Family of Muhammad as You did upon Ibrahim and the Family of Ibrahim; You are indeed Laudable, Glorious! O Allah! Bless Muhammad and the Family of Muhammad as You did bless Ibrahim and the Family of Ibrahim; You are indeed Laudable, Glorious!

O Allah! Be pleased with the rightly-guided Caliphs: Abu Bakr, Omar, Othman, and Ali, and with all the rest of the Companions, the tabi’in, and those who follow them righteously till the Day of Judgement! O Allah! Be also pleased with us, along with them, by Your Pardon, Generosity, and Munificence, O You, the Most Merciful!

O Allah! Grant glory to Islam and Muslims! O Allah! Let down polytheism and polytheists! O Allah! Protect religion; make this country secure and prosperous along with all Muslim countries!

O Allah! Set right the conditions of Muslims everywhere, O You the Owner of Majesty and Honour!

O Allah! Relieve those in distress among Muslims, alleviate their anguish, pay off the debts of those in debt, and cure our patients and theirs, by Your Mercy O You, the Most Merciful!

O Allah! We ask You by Your Grace, Kindness, Open-handedness, and Generosity, to protect Muslim countries from every evil! O Allah! Protect the country of the Two Holy Masjids! O Allah! Protect the country of the Two Holy Masjids! O Allah! Grant it a protection of Your Own! Keep it under Your Care and Providence! O Allah! Keep it secure, prosperous, and stable forever, by Your Mercy O You, the Most Merciful!

O Allah! Let the plotting of whoever intends to do harm to us, the country of the Two Holy Masjids, and Muslim countries bring destruction upon them, O You, the Most Strong, the Almighty, the Lord of Majesty and Bounty!

O Allah! Guide the Custodian of the Two Holy Masjids to do what You like and accept! Give him the best reward for what he does for Islam and Muslims!  O Allah! Unite the word of Muslims through him, O You, the Lord of the Worlds! O Allah! Guide him and his Crown Prince to do what is good for the country and the people! O Allah! Guide all Muslim leaders to what You love and accept, O You, the Most Merciful!

O Allah! Grant victory to our soldiers who are stationed on our country’s borders! O Allah! Grant them support and protection of Your Own! O Allah! Grant them success! O Allah! Make them steadfast and strengthen their resolve! O Allah! Be their Helper and Supporter, by Your Mercy, O You, the Most Merciful!

 O Allah! Forgive all Muslims and believers, the living among them and the dead, by Your Mercy, Grace, and Generosity, O You, the Lord of the Worlds!

Glorified be our Lord, the Lord of Honour and Power! You are free from what they attribute unto You! May peace be upon all the Messengers, and all praise be to Allah, the Lord of the Worlds!

logo-string    

 

 

 

 

اتحادیه جهانی علمای مسلمان با هشدار نسبت به خشم امت اسلام، قدس را خط قرمز مسلمانان جهان خواند و قرار دادن آن به عنوان پایتخت رژیم اشغالگری صهیونیستی را تجاوزی

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

دسامبر 6, 2017

آشکار به مسلمانان و هتک مقدسات آنان و راهی برای تقویت افراطگرایی دانست. خدای متعال پیرامون جایگاه بیت المقدس می‌فرماید
“سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ”

اسراء:1

پاکا کسی که بنده‌اش را شبی از مسجدالحرام تا مسجدالاقصی که پیرامونش را برکت بخشیده‌ایم، سیر داد، تا به او نمونه‌هایی از آیات خویش نشان دهیم، اوست که شنوا و بیناست‌

در حالی که فریادهای محکومت از ملت‌ها و کشورهای عربی و اسلامی و سازمان‌ها و نهادهای مدنی در اعتراض به اقدام ناشایست حکومت آمریکا در قرار دادن قدس به عنوان پایتخت یهودیان بلند شده است، دولت آمریکا به کار خود ادامه می‌دهد و بر تصمیم تحریک آمیزی که ممکن است منطقه را به جهنم تبدیل کند همچنان پافشاری می‌کند. این قمار سیاسی حقوق فلسطینیان را پایمال می‌کند. چنین تصمیمی که خارج از مصوبات سازمان ملل و نهادهای مدنی گرفته شده است، احساسات دینی ملت‌های عربی و اسلامی را جریحه‌دار می‌سازد. دولت آمریکا با این اقدام نه تنها از مخالفت‌های رسمی کشورهای عربی ابایی ندارد بلکه از اجماع جهانی که به تأیید قدرت‌های بزرگ هم رسیده است خارج شده است

انتقال سفارت آمریکا به قدس به معنی تقویت اشغال ظالمانه‌ی این شهر مقدس است و دولت آمریکا با این اقدام جنون‌آمیز و غیر قابل قبول می‌خواهد واقعیتی خارج از چارچوب قانونی سازمان ملل را بر منطقه تحمیل کند

دولت‌مردان آمریکایی باید پیش از چنین اقدام خودسرانه‌ای تاریخ ملت فلسطین را به درستی بخوانند و از انقلاب‌ها و انتفاضه‌هایش که همواره ندای قدس، مسجد الاقصی و فلسطین را با گوش جان لبیک گفته‌اند درس بگیرند. این ملت استوار و مقاوم در راه آزادسازی میهن خود نزدیک صد سال است که از پای ننشسته است و در این راه کاروانی از شهدا را تقدیم کرده است. بدیهی است که در برهه‌ی کنونی نیز از حمایت از مسجد الاقصی دست نخواهد شست

پشت سر ملت فلسطین، ملت‌های عربی و اسلامی قرار دارند و قدس مسأله‌ی همه‌ی اعراب و مسلمانان است؛ قدس مسأله‌ی کل امت اسلامی است و امت هیچ گاه اجازه نخواهند داد در حق آن کوتاهی صورت گیرد هر چند به بهای جان‌شان تمام شود

عربیت قدس و هویت فلسطینی آن و تعلق آن به سواد اعظم مسلمانان غیر قابل تغییر یا دست کاری است و جهان عرب و اسلام این اقدامات را برنمی‌تابد. مسیحیان فلسطین و قدس هم با این اقدام که در صدد تغییر نمادهای قدس و هویت آن است مخالفند. در چنین برهه‌ی دشواری اتحادیه‌ جهانی علمای مسلمان پیام‌های زیر را به سران آمریکا، کشورهای عربی و اسلامی و ملت‌های عرب و مسلمان ارسال می‌کند

نخست: به رئیس جمهور آمریکا
اتحادیه دولت آمریکا و رئیس جمهور این کشور را از پیامدهای این ماجراجویی و جانبداری و حمایت آشکار و نامحدود از رژیم صهیونیستی و هم‌نوایی با افراطگرایان برحذر و اعلام می‌دارد که این اقدام باعث می‌شود ملت فلسطین و به دنبال آن ملت‌های عربی و اسلامی با تمام توان به دفاع از شهر مقدس‌شان برخیزند. کسی که از واکنش آینده‌ی ملت‌ها در برابر این تصمیم خطرناک ناآگاه است، منافع کشور خود و نیز آینده‌ی منطقه را به بازی گرفته است

دوم: به سران کشورهای عربی و اسلامی
قدس و فلسطین امانتی است که پیامبران الهی بر گردن شما نهاده‌اند و نجات قدس و آزادسازی سرزمین‌ اشغالی فلسطین زمانی ممکن خواهد بود که دست در دست هم دهید، حکومت‌هایتان را قوی و پروردگارتان را از خود راضی کنید. با هر روش ممکن با این تصمیم آمریکا مخالفت کنید و عربیت و مسلمانی و غیرت شما را نشان دهید. هر گونه کوتاهی در عمل به این وظیفه، مشروعیت و نقش شما در دفاع از امت را زیر سؤال می‌برد

سوم: به ملت‌های عربی و اسلامی
قدس اشغالی و فلسطین دردمند تنها با ایمان جوانان شما و پایداری لشکریان‌تان و با توکل بر خدای بزرگ آزاد می‌شود.
هر انسان عرب و مسلمان وظیفه دارد باید با این اقدام جنون‌آمیز دولت آمریکا مخالفت کند و با استفاده از تمام راه‌های قانونی در صدد بی‌اثر کردن آن باشد.

ما امت اسلامی و ملت‌های زنده‌ی جهان را به تعامل مثبت و حکیمانه دعوت می‌کنیم و از آنان می‌خواهیم تصمیم سازان کشورهای عربی و اسلامی را تحت فشار قرار دهند تا گام‌های مورد نیاز برای قدس و فلسطین بردارند

از علما و دعوتگران امت نیز می‌خواهیم خطر این اقدام را به مسلمانان گوشزد کنند و از امروز و جمعه‌های آتی فعالیت‌های اعتراضی خود را در راستای دفاع از قدس ابراز کنند و در قالب حرکتی فلسطینی عربی و اسلامی به صورت مردمی و جهانی در برابر بی‌حرمتی آمریکا به نخستین قبله‌ی مسلمان و مکان اسرای پیامبر اسلام و زادگاه مسیح نشان دهند

دبیرکل               رئیس اتحادیه
دکتر علی قره داغی            دکتر یوسف قرضاوی

    IUMS

 

Iman, Akhlak, Percaya Diri

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

Seorang warga negara yang sejati ialah mereka yang :

1. Beriman kepada Rabbnya, mengenal keagungan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya dan taat kepada perintah dan larangan-Nya.
2. Ikhlas kepada umatnya, siap berjihad untuk kemuliaan bangsanya, dan berkorban untuk membela dan memelihara kesatuan dan persatuan.
3. Percaya pada diri sendiri dengan menempuh jalan kehidupan dengan tentram, mulia, kokoh, kuat, dibimbing oleh kemampuan dan ketinggian ilmunya dan bersenjatakan kekuatan tekad dan semangatnya.

الله اعلم

Masjid Raya Sumbar

فضل العلم والمُعلِّم

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

      
ألقى فضيلة الشيخ ماهر المعيقلي – حفظه الله – خطبة الجمعة, المسجد الحرام مكة المكرمة 23 محرم 1439بعنوان : “فضل العلم والمُعلِّم”، والتي تحدَّث فيها عن فضل العلمِ ونشرِه بين الناسِ، ثم بيَّن عِظَم قَدر المُعلِّم والمُربِّي ومكانتِهِ، وأثَره في إصلاح المُجتمع

 

الخطبة الأولى

الحمدُ لله، الحمدُ لله الذي علَّم بالقلَم، علَّم الإنسانَ ما لم يعلَم، وأشهدُ أن لا إله إلا الله وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمدًا عبدُه ورسولُه، بعثَه الله في الأميِّين ﴿يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ﴾ [آل عمران: 164]، صلَّى الله وسلَّم وبارَك عليه، وعلى آلِه وأصحابِه ومن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين.

أما بعدُ .. معاشر المؤمنين:

اتَّقُوا الله حقَّ التقوَى، واستمسِكُوا بالعُروة الوُثقَى، ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: 102].

أمة الإسلام:

لقد رفعَ الله تعالى مكانةَ العلم وأهلَه، وعظَّم منزلتَهم وأعلَى شأنَهم، فقال – عزَّ مِن قائل -: ﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾ [المجادلة: 11].

وبيَّن – سبحانه – أن العالِمَ والجاهِلَ لا يستوُون، ﴿قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾ [الزمر: 9].

ولقد كانت العربُ قبل الإسلام أمةً غائِبةً ليس لها سِيادة، ولا هدفٌ ولا غاية، يعيشُون في دياجِير الجَهالة، وتسُودُهم الخُرافة، وتُمزِّقُ جمعَهم العصبيَّاتُ والعُنصريَّات؛ حتى بعثَ الله – تبارك وتعالى – برحمتِه وفضلِه،ومنَّتِه وكرمِه – نبيَّه ومُجتبَاه مُحمدًا – صلى الله عليه وسلم -، فأخرجَ به الناسَ مِن الظُّلمات إلى النور، ومِن ضِيقِ الدنيا إلى سعة الدنيا والآخرة.

فجاء – صلى الله عليه وسلم – مُتمِّمًا لمكارِمِ الأخلاق، مُعلِّمًا ومُربِّيًا، ومُزكِّيًا ومُوجِّهًا؛ إذ العلمُ بلا تربيةٍ وتزكيةٍ وَبالٌ على صاحبِه في الدنيا والآخرة، ﴿لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ﴾ [آل عمران: 164].

وكان – صلى الله عليه وسلم – في تربيتِه وتعليمِه سَمحًا رفيقًا، مُيسِّرًا مُبشِّرًا:

ففي “صحيح مسلم”: لما نزلَ قولُ الله – تبارك وتعالى -: ﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا﴾ [الأحزاب: 28، 29]، بدأَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – بعائشةَ فخيَّرَها، فقالت – رضي الله عنها وأرضاها -: بل أختارُ اللهَ ورسولَه والدارَ الآخرة، وأسألُك ألا تُخبِرَ امرأةً مِن نسائِك بالذي قُلتُ، فقال – صلى الله عليه وسلم -: «لا تسألُنِي امرأةٌ مِنهنَّ إلا أخبَرتُها، إن الله لم يبعَثني مُعنِّتًا ولا مُتعنِّتًا، ولكن بعَثَني مُعلِّمًا مُيسِّرًا».

ويصِفُ مُعاويةُ بن الحكَم – رضي الله عنه وأرضاه – منهجَ النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – في تعليمِه، حين تكلَّم في الصلاةِ بما ليس مِنها. قال: “فبأبِي هو وأمِّي ما رأيتُ مُعلِّمًا قبلَه ولا بعدَه أحسنَ تعليمًا مِنه؛ فوالله ما كهَرَني ولا ضرَبَني ولا شتَمَني، قال: «إن هذه الصلاةَ لا يصلُحُ فِيها شيءٌ مِن كلامِ الناسِ، إنما هو التسبيحُ والتكبيرُ وقراءةُ القرآن»؛ رواه مسلم.

وصدَقَ الله إذ يقول: ﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ﴾ [الأنبياء: 107].

وكان – صلى الله عليه وسلم – يسلُكُ في تعليمِه وتربيتِه الرِّفقَ واللِّينَ، وإظهارَ المحبَّة للمُتعلِّمِين:

ففي “سنن أبي داود” بسندٍ صحيحٍ: أن النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – أخذَ بيدِ مُعاذِ بن جبلٍ – رضي الله عنه – فقال: «يا مُعاذ! واللهِ إني لأُحبُّكَ، واللهِ إني لأُحبُّكَ، أُوصِيكَ يا مُعاذ لا تدَعَنَّ في دُبُر كل صَلاةٍ تقول: اللهم أعِنِّي على ذِكرِك وشُكرِك وحُسنِ عبادتِك».

وكلما كانت البِيئةُ التعليميَّةُ آمِنة استطاعَ طالِبُ العلم أن يُفصِحَ عن جَهلِه وعدم معرفتِه دُون خوفٍ أو خجَلٍ : ففي “مُسند الإمام أحمد”: أن رجُلًا يُقال له “سُلَيم” أتَى رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم -، فقال: يا رسولَ الله! إن مُعاذَ بن جبلٍ يأتِينَا بعدما ننامُ ونكونُ في أعمالِنا بالنَّهار، فيُنادِي بالصَّلاة، فنخرُجُ إليه فيُطوِّلُ علينا، فقال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: «يا مُعاذ! لا تكُن فتَّانًا؛ إما أن تُصلِّي معِي، وإما أن تُخفِّفَ على قومِك».

ثم قال – صلى الله عليه وسلم -: «يا سُلَيم! ماذا معَك مِن القرآن؟»، قال: إني أسألُ اللهَ الجنَّة، وأعوذُ به مِن النار، والله ما أُحسِنُ دَندَنَتَك ولا دَندَنَةَ مُعاذ، فقال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: «وهل تَصِيرُ دَندَنَتي ودَندَنَةُ مُعاذ إلا أن نسألَ الله الجنَّة، ونعُوذَ بِه مِن النار».

ولنعلَم – معاشِر المُربِّين والمُربِّيَات – أن للقُدوة آثارًا جلِيلةً في نُفوسِ المُتعلِّمين، وكلما كان المُعلِّمُ مُتأسِّيًا بنبيِّه – صلى الله عليه وسلم -، وقُدوةً حسنةً في الخَير، كان أعظمَ أثَرًا في تلاميذِه.

وفي “صحيح مسلم”: «مَن سنَّ في الإسلام سُنَّةً حسنةً فعُمِلَ بها بعدَه، كُتِبَ له مِثلُ أجرِ مَن عمِلَ بها، ولا ينقُص مِن أجُورِهم شيءٌ».

معاشِر المُعلِّمين والمُعلِّمات:

ليس هناك أعظمُ مكانةً مِن رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم -؛ فهو سيِّدُ ولَد آدم، وخلِيلُ ربِّ العالَمين، وأولُ شافِعٍ ومُشفَّع، وأولُ مَن تُفتَحُ له أبوابُ الجِنان، وهو صاحِبُ الحَوضِ المَورُود، والمقامِ المحمُود، ومع ذلك كلِّه لم يكُن أحدٌ أكثرَ تواضُعًا مِنه – صلى الله عليه وسلم -.

قال أنسٌ – رضي الله عنه – عن أصحابِ رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم -: “لم يكُن شخصٌ أحَبَّ إليهم مِن رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم -، وكانُوا إذا رأَوه لم يقُومُوا؛ لِمَا يعلَمُون مِن كراهيتِه لذلك”.

وفي “صحيح مسلم”: أن النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال: «وما تواضَعَ أحدٌ لله إلا رفعَه الله».

وكان الحِوارُ والمُناقشَة، والسُّؤالُ والمُراجعةُ مِن منهَجِه – صلى الله عليه وسلم – في التربيةِ والتعليمِ:

ففي “سنن الترمذي”: أن رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قال: «أتَدرُون مَن المُفلِس؟»، قالوا: المُفلِسُ فِينا – يا رسول الله – مَن لا درهَمَ له ولا متاع، فقال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: «المُفلِسُ مِن أمَّتِي مَن يأتِي يوم القِيامة بصلاتِه وصيامِه وزكاتِه، ويأتي قد شتَمَ هذا، وقذَفَ هذا، وأكلَ مالَ هذا، وسفَكَ دمَ هذا،وضرَبَ هذا، فيقتَصُّ هذا مِن حسناتِه، وهذا مِن حسناتِه، فإن فنِيَت حسناتُه قبل أن يُقتَصَّ ما عليه مِن الخطايا أُخِذ مِن خطاياهم فطُرِح عليه، ثم طُرِحَ في النار».

والمُعلِّمُ الناجِحُ – أيها المُؤمنون – مَن يُراعِي في تعامُلِه مع تلامِيذِه اختِلافَ أحوالهم:

فقد كان رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – يُراعِي أحوالَ أصحابِه، فيُوصِي كلَّ إنسانٍ بما يُناسِبُه؛ فهذا يُوصِيه بتقوَى الله وحُسن الخُلُق، وآخر بعدم الغضَب، وثالِثٌ بألا يتولَّى أمرَ اثنَين بطريقةٍ لطيفةٍ رقيقةٍ، ورابِعٌ يقولُ له: «لا يزالُ لِسانُك رَطبًا مِن ذِكرِ الله – عزَّ وجل -».

وفي “صحيح مسلم”: رأَى – صلى الله عليه وسلم – خاتَمًا مِن ذهبٍ في يَدِ رُلٍ مِن أصحابِه، فنزَعَه فطرَحَه وقال: «يَعمِدُ أحدُكُم إلى جَمرةٍ مِن نارٍ فيَجعلُها في يَدِه»، فقِيل لرجُلِ بعدما ذهبَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: خُذ خاتَمَك انتفِع به، قال: لا والله لا آخُذُه أبدًا وقد طرَحَه رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -.

وهكذا كان – بأبي هو وأُمِّي – صلى الله عليه وسلم – يُعامِلُ الناسَ بما يُناسِبُهم، ويُراعِي الفُروقَ الفرديةَ بينَهم، والمُعلِّمُ اللَّبيبُ والمُربِّي الحكيمُ هو الذي يُفيدُ مِن أحداثِ اليومِ والليلةِ في التوجيهِ والتعليمِ؛ فاغتِنامُ مُناسبةٍ طارِئة، أو موقِفٍ عارِضٍ قد يُؤثِّرُ أثَرًا عمِيقًا في قُلوبِ المُتعلِّمين.

ففي “الصحيحين” مِن حديث الفارُوقِ – رضي الله عنه – قال: قدِمَ على رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – بسَبيٍ، فإذا امرأةٌ مِن السَّبيِ تبتَغِي – أي: تبحَثُ عن شيءٍ -، إذ وجَدَت صبِيًّا في السَّبيِ أخَذَتْه فألصَقَتْه ببطنِها وأرضَعَتْه، فقال لنا رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: «أترَونَ هذه المرأةَ طارِحةً ولَدَها في النار؟»، قُلنا: لا والله وهي تقدِرُ على ألا تطرَحَه، فقال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: «للهُ أرحَمُ بعبادِه مِن هذه بولَدِها».

معاشِر المُربِّين والمُربِّيَات:

لقد كان لرسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – في مُعالجَته الأخطاء منهَجٌ فريدٌ، يُبيِّنُ مواضِعَ الزَّلَل، ويحفَظُ كرامةَ الناسِ دُون تشهيرٍ أو تعنِيفٍ، فيقولُ: «ما بَالُ أقوامٍ يفعَلُون كذا وكذا».

ولم يضرِب – صلى الله عليه وسلم – بيَدِه أحدًا قطُّ إلا أن يُجاهِدَ في سبيلِ الله، وما انتقَمَ – صلى الله عليه وسلم – لنفسِه إلا أن تُنتَهَك محارِمُ الله، فينتَقِمُ لله – عزَّ وجل -.

وإن المُربِّيَ الناجِحَ هو الذي يُوظِّفُ جميعَ الطاقات، فيُربِّي الأبناءَ والبناتِ على تحمُّل الأعباء والقِيام بالمسؤوليَّات، ويبُثُّ فيهم رُوحَ المُشارَكة والعطاء، والتشييد والبِناء؛ ليكُونُوا لبِنةً صالِحةً في أوطانِهم، فليس هناك فِئةٌ مُهمَلَةٌ في المُجتمعات المُسلِمة، حتى الضُّعفاءُ والمساكِينُ بِهم تُنصَرُ الأمة.

ففي “صحيح البخاري”: أن سَعدًا – رضي الله عنه وأرضاه – رأَى أن له فَضلًا على مَن دُونَه بسببِ منزلتِه وشجاعتِه وغِناه، فقال النبيُّ – صلى الله عليه وسلم -: «هل تُنصَرُون وتُرزَقُون إلا بضُعفائِكُم؟».

أمة الإسلام:

إن التربيةَ والتعليمَ هي مسؤوليَّةُ الجميع، «ألا كلُّكُم راعٍ وكلُّكُم مسؤولٌ عن رعِيَّتِه».

وما سمِعناه مِن معالِمِ هَديِ النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – في التربيةِ والتعليمِ، ما هو إلا غَيضٌ مِن فَيضٍ، وقليلٌ مِن كثيرٍ مما زخَرَت به السنَّةُ النبويَّةُ المُبارَكة مِن هَديِ سيِّد المُرسَلِين وإمامِ المُتَّقين؛ حيث بذَلَ – صلى الله عليه وسلم – النَّفسَ والنَّفيسَ لتحقيقِ هذه الغايةِ العظيمة، فأخرجَ جِيلًا فريدًا لا نظيرَ له ولا مثِيلَ، زكَّاهم ربُّهم بقولِه: ﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾ [آل عمران: 110].

فما أحوَجَنا – يا عباد الله – أن نقتَبِسَ مِن مِيراثِه، ونحذُوَ حَذوَه في تعليمِنا وتربيتِنا لأبنائِنا وبناتِنا، ما أحوَجَنا إلى منهَجِ ذلك المُعلِّم الأولِ الذي أحيَا الله به القُلُوبَ، وأنارَ به العُقُولَ، وأخرجَ الناسَ به مِن الظُّلُمات إلى النُّور، ذلكُم المُعلِّمُ الذي أرسَلَه الله رحمةً للعالمَين، وأُسوةً حسنةً لمَن كان يرجُو لِقاءَ أرحَم الراحمين.

أعوذُ بالله مِن الشيطان الرجيم: ﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴾ [الأحزاب: 21].

بارَك الله لي ولكم في القرآنِ العظيم، ونفعَنا بسُنَّة سيِّد المُرسَلين، أقولُ قولي هذا، وأستغفِرُ اللهَ تعالى لي ولكم، فاستغفِروه؛ إنه هو الغفورُ الرحيم.

 

الخطبة الثانية

الحمدُ لله، الحمدُ لله رب العالمين، وأشهدُ أن لا إله إلا الله وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن مُحمدًا عبدُه ورسولُه، صلَّى الله عليه وعلى آلِهِ وأصحابِه والتابِعين، ومَن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين.

أما بعدُ .. معاشر المُؤمنين:

أخرجَ الترمذي في “سننه” بسندٍ صحيحٍ، عن أبي أُمامة الباهلِيِّ – رضي الله عنه – قال: ُكِر لرسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – رجُلان: أحدُهما عابِدٌ، والآخرُ عالِمٌ، فقال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: «فَضلُ العالِمِ على العابِدِ كفَضلِي على أدناكُم»، ثم قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: «إن الله وملائكتَه وأهلَ السماوات والأرضين، حتى النملةَ في جُحرها، وحتى الحُوت ليُصلُّون على مُعلِّمِ الناسِ الخَير».

فالصلاةُ مِن الله تعالى على العبدِ: ذِكرُه والثناءُ عليه في الملأ الأعلَى.

فيا أيها المُعلِّم الفاضِل:

مهما كان اختِصاصُك، ومهما كان عطاؤُك في العلُوم الشرعيَّة أو التجريبيَّة، فأنت تعمَلُ عملًا جليلًا، وتقومُ مقامًا نبِيلًا؛ إذ تتأسَّى برسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – في هِدايةِ الخلقِ إلى الحقِّ، فمِهنتُك مِن أشرَفِ المِهَن، وأجرُها مِن أعظَم الأجُور.

فهنِيئًا لك بهذا الأجرِ العظيمِ، وهنِيئًا لك بذِكرِ الله لك، وثنائِهِ عليك في الملأ الأعلَى؛ فكلُّ علمٍ نافِعٍ للبشريَّة فصاحِبُه مِن مُعلِّمي الناسِ الخَير، وهو مما حثَّ الإسلامُ على تعلُّمِه والعملِ به.

وهذا رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – ينسِبُ كلَّ علمٍ إلى أهلِه:

ففي “سنن ابن ماجَه” بسندٍ صحيحٍ: عن أنَسِ بن مالكٍ – رضي الله عنه -، أن رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قال: «أرحَمُ أمَّتِي بأُمَّتِي أبُو بَكر، وأشدُّهم في دِينِ الله عُمر، وأصدَقُهم حَياءً عُثمان، وأقضَاهُم عليُّ بن أبي طالِبٍ، وأقرؤُهم لكِتابِ الله أُبَيُّ بن كعبٍ، وأعلَمُهم بالحَلالِ والحَرامِ مُعاذُ بن جبَل، وأفرَضُهم زَيدُ بن ثابِتٍ، ألا وإن لكلِّ أمةٍ أمِينًا، وأمِينُ هذه الأمةِ أبو عُبَيدة بن الجرَّاح».

فمسؤوليَّتُكم – أيها المُعلِّمُون والمُعلِّمات – عظيمة، والأمانةُ المُلقاةُ عليكُم جلِيلَة. فكُونُوا مصابِيحَ هُدى تستَنِيرُ بها عُقُولُ تلامِيذِكم، وازرَعُوا فِيهم حُبَّ دينِهم وأوطانِهم ووُلاةِ أمرِهم وعلمائِهم، وكُونُوا سدًّا مَنِيعًا أمامَ أسبابِ التطرُّف والغُلُوِّ، والمُرُونةِ والرُّعُونة، ﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا﴾ [البقرة: 143].

أمة الإسلام:

إن تقديرَ المُعلِّم له أثَرٌ عظيمٌ في نُفُوسِ التلامِيذ، فلنَغرِس في قُلُوبِ أبنائِنا تقديرَ المُعلِّم وإجلالَه، فالأدبُ مِفتاحُ العلمِ، ونحن إلى كثيرٍ مِن الأدَبِ أحوَجُ مِنَّا إلى كثيرٍ مِن العلمِ.

وعلى هذا سارَ سلَفُنا الصالِحُ – رضي الله عنهم وأرضاهم -:

فهذا ابنُ عباسٍ – رضي الله عنهما – كان يأخُذُ بخِطام ناقَةِ مُعلِّمه زَيدِ بن ثابِتٍ ويقولُ: “هكذا أُمِرنا أن نفعَلَ بعُلمائِنا وكُبَرائِنا”.

وقال الإمامُ أبو حَنِيفَة – رحمه الله -: “ما مَدَدتُ رِجلِي نحوَ دارِ أُستاذِي حمَّاد إجلالًا له، وما صلَّيتُ صلاةً مُنذ ماتَ حمَّاد إلا استغفَرتُ له مع والدَيَّ”.

وقال الإمامُ الشافعيُّ – رحمه الله -: “كُنتُ أتصفَّحُ الورقَةَ بين يدَي مالِكٍ برِفقٍ لئلا يسمَعَ وَقعَها”.

وهذا الإمامُ أحمدُ مِن تلامِيذِ الإمام الشافعيِّ، قال ابنُه عبدُ الله: قُلتُ لأبِي: أيُّ رجُلٍ كان الشافعيَّ، فإنِّي سمِعتُك تُكثِرُ مِن الدعاء له؟! فقال: “يا بُنيَّ! كان الشافعيُّ كالشمسِ للدنيا، والعافِيةِ للناسِ، فانظُر هل لهَذَين مِن خلَف، أو عنهما مِن عِوَض!”.

وصدَقَ مَن قال:

إنَّ المُعلِّمَ والطبِيبَ كلاهُما   لا يَنصَحانِ إذا هُما لم يُكرَمَا
فاصبِر لدائِكَ إن أهَنتَ طبِيبَهُ   واصبِر لجَهلِك إن جَفَوتَ مُعلِّمَا

ثم اعلَمُوا – معاشِرَ المُؤمنين – أن الله أمرَكم بأمرٍ كريمٍ، ابتَدَأَ فيه بنفسِه، فقال – عزَّ مِن قائِلٍ -: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].

اللهم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمدٍ، كما صلَّيتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميدٌ مجيد، اللهم بارِك على محمدٍ وعلى آل محمدٍ، كما بارَكتَ على إبراهيمَ وعلى آل إبراهيم، إنك حميدٌ مجيد.

وارضَ اللهم عن الخُلفاء الراشِدِين: أبي بكرٍ، وعُمر، وعُثمان، وعليٍّ، وعن سائِرِ الصحابةِ والتابِعِين، ومَن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وعنَّا معهم بعفوِك وكرمِك وجُودِك يا أرحم الراحمين.

اللهم أعِزَّ الإسلامَ والمسلمين، اللهم أعِزَّ الإسلامَ والمسلمين، اللهم أعِزَّ الإسلامَ والمسلمين، وأذِلَّ الشركَ والمُشرِكين، واحمِ حَوزةَ الدين، واجعَل هذا البلدَ آمنًا مُطمئنًّا، رخاءً سخاءً، وسائرَ بلادِ المُسلمين.

اللهم أصلِح أحوالَ المُسلمين في كل مكانٍ برحمتِك يا أرحم الراحمين.

اللهم فرِّج همَّ المهمُومين مِن المُسلمين، ونفِّس كَربَ المكرُوبِين، واقضِ الدَّينَ عن المَدِينِين، واشفِ مرضانا ومرضَى المُسلمين.

اللهم وفِّق خادمَ الحرمَين لما تُحبُّ وترضَى، واجزِه عن الإسلام والمُسلمين خيرَ الجزاء، اللهم وفِّق جميعَ وُلاةِ أمور المسلمين لما تُحبُّه وترضَاه.

اللهم انصُر جنودَنا المُرابِطين على حُدودِ بلادِنا، اللهم أيِّدهم بتأيِيدك، واحفَظهم بحِفظِك، اللهم كُن لهم مُعِينًا ونصِيرًا برحمتِك يا أرحَم الراحِمين.

اللهم لا تدَع لنا ذنبًا إلا غفَرتَه، ولا مريضًا إلا شفَيتَه، ولا مُبتلًى إلا عافَيتَه، ولا ضالًّا إلا هدَيتَه، ولا مَيتًا مِن أمواتِنا إلا رحِمتَه برحمتِك يا أرحَم الراحِمين.

اللهم اغفِر للمُسلمين والمُسلِمات، والمُؤمنِين والمُؤمِنات، الأحياءِ مِنهم والأمواتِ.

اللهم وفِّق المُعلِّمات والمُعلِّمات لِما تُحبُّ وترضَى، وأعِنهم على القِيام بمسؤوليَّاتهم، وأداءِ أماناتِهم، اللهم واجزِهم خَيرَ الجزاء على ما يُعلِّمُون وينصَحُون ويُرشِدُون برحمتِك يا أرحَم الراحِمين.

سُبحان ربِّك ربِّ العزَّة عما يصِفُون، وسلامٌ على المُرسَلين، والحمدُ لله ربِّ العالمين.

logo-string