عيد الفطر مبارك ١٤٣٩هـ

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنٌِكُمٌ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمٌ
آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين

FB_IMG_1498378646972

الله أكبر اللّهُ اكبر الله أكبر

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الله أكبر اللّهُ اكبر و لِلّه الحمد

Advertisements

Palestina: Sebelum Dan Sesudah Zionisme

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

SpiritofAqsa

Oleh : Dr. Saiful Bahri, M.A.

Disampaikan dalam Daurah Palestina Spirit of Aqsa (19/11/2017)

  • Palestina Pra Zionisme

Asal kata Palestina adalah dari suatu kaum di Asia Kecil bernama Palest (orang pantai dari Pulau Kareta) yang masuk tempat ini sekitar tahun 1200 SM. Atau dari kata (فلس) “kulit” dan (طين)  artinya “tanah” mengisyaratkan profesi penduduknya sebagian besar bercocok tanam (petani). Atau dari kata (philist) yang berarti orang yang kasar/perkasa (Jabbârîn). Seperti yang diisyaratkan dalam Firman Allah سبحانه و تعالى,

Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa…” (Al-Qur’an, 5:22)

Kata “Palestina” mulanya dipakai untuk daerah musuh-musuh Israel, yaitu orang Filistin. Pertama kali dipakai Herodutus untuk menamai daerah di selatan Suriah. Dengan ejaan Palestina, kemudian istilah ini dipakai Bangsa Romawi juga. Sebelumnya, tahun 8000 SM ditemukan kota tertua di tempat ini “Ariha” (Jericho). Pada 2500 SM, Palestina berubah nama menjadi bernama Bumi Kan’an karena hijrahnya kaum Kan’an ke Palestina.

Kan’an adalah istilah yang lebih tua (dari Palestina), punya sejarah serupa (menjadi musuh Israel) pada abad 14 SM terbatas hanya meliputi daerah tepi pantai, lalu dengan ditaklukkannya daerah pedalaman oleh bangsa Kan’an, istilah itu dipakai untuk seluruh tanah di sebelah barat lembah Yordan.

Tahun 1900 SM, Nabi Ibrahim عليه السلام & Nabi Luth عليه السلام hijrah ke Suriah sampai ke “Kan’an” Palestina. Karena paceklik, mereka akhirnya pindah ke Mesir. Adapun Nabi Musa عليه السلام menjelajahi Palestina sekitar tahun 1300 SM. Pengikut beliau; Yusa’bin Nun juga pernah singgah di Palestina tahun 1190 SM.

Palestina berada di masa keemasan antara tahun 1004-923 SM (Nabi Daud عليه السلام & Nabi Sulaiman عليه السلام). Kerajaan Sulaiman عليه السلام nantinya terbagi dua di bagian Utara bernama “Israel” yang dihancurkan Bangsa Asyuria (Syarjon II), dan kerajaaan “Yahuda” di Selatan yang dihancurkan Nabucadnezar.

Pada 539-332 SM Palestina dikuasai Kaum Persia, kemudian jatuh ke tangan Yunani tahun 332-63 SM. Dan diambil alih oleh Romawi 63 SM – 636 M. Inilah tiga bangsa besar yang pernah menjajah & menguasai Palestina pada awalnya.

Amirul Mu’minin Umar bin Khattab رضي الله عنه‎ menaklukkan Baitul Maqdis pada tahun 637 M (16 H). Adapun Daulah Islamiyah berkuasa di Palestina 636-917 M. Sempat direbut Tentara Salib dalam perang salib 1099 M (493 H) selama 88 tahun, namun dapat direbut kembali oleh Shalahuddin Al-Ayyubi رحمه الله pada 27 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M.

Pada tahun 1099-1118 M tentara Perang Salib menaklukkan Yerusalem & mengubah ‘Dome of the Rock‘  (Qubbatussakhra’) menjadi Gereja Kristen & Masjid Al-Aqsha sebagai markas tentara. Kemudian Shalahuddin رحمه الله menaklukkan kembali Yerusalem tahun 1187 M dan Sultan Sulaiman رحمه الله memperbaiki ‘Dome of the Rock’ pada tahun 1537 M.

  • Sekilas tentang Zionisme

Zionisme berawal dari ide seorang wartawan Yahudi, Herzl yang prihatin melihat kondisi masyarakat Yahudi dunia yang mendapat perlakuan diskriminatif di berbagai negara di Eropa. Semua ideologi ini pada akhirnya mengerucut pada bangkitnya kekuatan Yahudi dunia.

Dengan segala potensi pada akhirnya mereka mampu menguasai jalur-jalur penting dunia, seperti perbankan, media massa, dan politik. Karena itu, mereka dapat membentuk opini dunia tentang penindasan yang dialami Yahudi dalam Perang Dunia. Yang terbesar adalah klaim sepihak atas tanah Palestina sebagai milik Yahudi yang diwarisi dari nenek moyang mereka sebagai janji Tuhan.

Ideologi Zionisme, terlepas dari masih adanya pro kontra di dalam masyarakat Yahudi, adalah pelajaran berharga tentang kegigihan mereka yang berkomunitas kecil itu memperjuangkan ideologinya, tahap demi tahap hingga berhasil mendirikan Negara Israel.

Zionisme adalah gerakan yang mencita-citakan negara yang murni ras Yahudi. Ideologi ini tidak memberikan ruang sama sekali (secara bertahap) bagi bangsa-bangsa dan ideologi lain untuk hidup bersama secara damai.

Zionisme berbasis rasialisme dan penjajahan. Rasialisme, karena bertolak dari negara berbasis utama Ras Yahudi & mengelasduakan ras lain. Penjajahan, karena merampas tanah dan kedaulatan bangsa lain dengan perspektif modern, di saat bangsa-bangsa dunia melawan segala bentuk penjajahan.

Ideologi Zionisme ini pada awalnya ditolak oleh sebagian besar masyarakat Yahudi, tapi dalam perkembangannya kemudian diterima atas dasar banyak peristiwa. Pada pelaksanaannya ideologi ini begitu ringkih karena tidak berpijak pada keyakinan Yahudi dan semata-mata karena kekuasaan dan uang.

Kaitan zionisme è pra zionisme (HIBBAT ZION) Yahudi Askhenazi gerakan Yahudi Polandia, Rusia dan Rumania, Rabi Zevi Kalicher dan Judah Alkalai telah mempromosikan ide untuk bermukim di Palestina sejak 1840 M. Momentum gerakan ini adalah saat terjadinya aksi kekerasan di Rusia & terbunuhnya Tsar Alexander II pada tahun 1881.

Der Judenstaat (Negara Yahudi) adalah kumpulan tulisan Theodore Herzl yang diterbitkan pada tahun 1896. Buku ini menggembar-gemborkan datangnya era Zionisme. Beberapa artikel dan buku yang mengulas ide tentang Zionisme telah bermunculan sejak awal tahun 1840 dan beberapa kelompok pengusung ide Zionisme.

Rencana Herzl untuk menciptakan sebuah negara Yahudi disertai dengan program-program yang praktis ini mengantarkan gerakan ini pada Kongres Zionis pertama di Basel, Swiss, pada bulan Agustus 1897.

Theodore Herzl, Lahir di Budapest, Hongaria, 2 Mei 1860, dari keluarga Yahudi. Keluarganya pindah ke Wina, Austria, tahun 1878. Ia menjadi sarjana hukum pada 1884 & bekerja di pengadilan Wina. Akhirnya, ia menemukan bahwa menulis adalah panggilan jiwanya, dan segera meninggalkan dunia pengadilan

Pada tahun 1891, Herzl menjadi koresponden untuk koran New Free Press yang bermarkas di Wina. Ia berada di Paris, saat menyaksikan gelombang anti-Yahudi yang menguat karena adanya pengadilan atas Alfred Dreyfus, seorang tentara Perancis berdarah Yahudi. Alfred Dreyfus dituduh atas kegiatannya sebagai mata-mata di internal angkatan bersenjata Perancis. Dreyfus dipecat secara tidak hormat di depan khalayak ramai disertai umpatan terhadap keyahudiannya dalam upacara kemiliteran pada Januari 1985. Kasus Dreyfus memotivasi Herzl untuk mencurahkan pemikiran dan tenaganya dalam membela orang-orang Yahudi.

29-31.08.1897 World Zionist Organization mengadakan seminar internasional 1 di Basel, Swiss. Atas inisiasi Theodor Hertzel bermaksud mendirikan negara Yahudi “Israel” di bumi Palestina. Permintaan otoritas Yahudi di Palestina ditolak Sultan Abdul Hamid II رحمه الله.

Dimulailah konspirasi untuk menjatuhkan Sultan Hamid sebagai entry point mendirikan negara Yahudi tersebut. Melalui al-Etihad wa at-Taraqqi 1909-1914 M Yahudi mendorong berdirinya Turki Baru yang sekuler.

  • Deklarasi Balfour

Deklarasi Balfour (2/11/1917) adalah janji pemukiman untuk Bangsa Yahudi di kawasan yang diberi nama Palestina. Menteri Luar Negeri Britania Raya Arthur Balfour menjanjikan kepada Lord Walter Rothschild, seorang taipan dan pemimpin komunitas Yahudi di Eropa. Teks deklarasi tersebut diterbitkan di media sepekan kemudian.

Deklarasi ini terdiri dari 119 kata, disusun oleh 25 pakar Yahudi Zionis dari berbagai negara. Chaim Weismann -Yahudi terkemuka, salah satu inisiator fanatik Zionisme- sampai turun tangan dengan 17 kali menyeberangi Samudera Atlantik.

Deklarasi atau janji Balfour tidaklah muncul tiba-tiba. Sejak perang berkecamuk pada 1914 lobi Yahudi di Eropa yang terwakili oleh Rothschild telah mengondisikan masa depan Palestina, yang nanti menjadi wilayah mandatori Inggris (saat itu Inggris tidak memilikinya, juga bukan wilayah jajahannya). Palestina, peta dengan nama khusus seperti saat ini tidaklah dikenal ketika masih berada di wilayah Ottoman. Karena saat itu terintegrasi ke wilayah yang dikenal dengan sebutan Syam. Lobi Yahudi menembus Kabinet Inggris pada Februari 1917 melalui negosiasi tingkat tinggi, melibatkan orang penting dan pemegang kebijakan di kabinet Inggris dan tokoh-tokoh Zionis. Kemudian pada 19/6 Rothschild dan Weismann, mewakili tokoh zionis mengajukan kerangka detil deklarasi publik.

Balfour menandatangi draft final deklarasi tersebut pada 29/10. Maka, sidang kabinet Britaniya 31/10 menjadi formalitas untuk menjadikannya resmi sebagai sikap negara yang diwakili Departemen Luar negeri dua hari kemudian.

Departemen Luar Negeri 2 November 1917

Tuan Rothschild yang terhormat

Saya sangat senang dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet.

“Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina, tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha terbaik untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan dan dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya”.

Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis.

Salam, Arthur James Balfour

  • Palestina Modern

Pada tahun 1917-1948 Yerussalem ditaklukkan oleh Inggris dan berakhir dengan pemberian kemerdekaan kepada Israel pada 14 Mei 1948, tetapi jalan masuk ke Tembok Barat atau bukit Bait Allah masih tertutup bagi mereka.

Mayoritas Israel adalah penganut Yahudi. Sebagian kecil penduduknya adalah Arab Muslim (warga Arab-Israel) 16%, ada beberapa persen beragama Kristen.

Adapun Palestina sebagian besar adalah Muslim dan sebagian kecilnya beragama Kristen-Arab Palestina. Di daerah Betlehem, hampir 30 % penduduknya beragama Kristen/Katolik.

Pendekatan Ideologis (umat Islam): semua Nabi/Rasul Allah سبحانه و تعالى dikirim ke Palestina (entah singgah atau memang berdakwah di sana), bumi yang diberkahi dan dijanjikan bagi kaum beriman (bertauhid) dan titik tempat dikumpulkannya seluruh manusia

Tahun 1914-1918 meletus Perang Dunia 1.

Setelah melalui perundingan yang alot, akhirnya disepakati bahwa wilayah jajahan Inggris (Selatan Palestina dan Selatan Iraq) dikembalikan sesuai kehendak rakyatnya. Sebagian besar masih menginginkan berada dalam wilayah Turki Usmani.

Palestina berada dalam jajahan Inggris sempurna pada Desember 1917 M, Jerussalem diduduki pada 09.12.1917 M, sepekan setelah Deklarasi Balfour.

  • Proyek Migrasi Yahudi besar-besaran dilakukan.

Tahun 1918 :   55.000 jiwa (8 % total penduduk)

Tahun 1948 : 646.000 jiwa (31.7% total penduduk)

27.01 – 10.02.1919 diadakan Seminar Arab Palestina sebagai respon pembagian wilayah penjajahan. Dan terlaksana 7 kali seminar sampai tahun 1928 M. Muncullah Gerakan Nasional Palestina.

Di tempat lain, tahun 1924 : runtuhnya Daulah Usmaniyah

Sepanjang tahun 1918-1929 M terjadi beberapa kali gerakan perlawanan terhadap penjajahan Inggris.

Tahun 1929-1939 M, masuk wilayah politik dengan mendirikan parpol dan gerakan diplomasi, disamping gerakan perlawanan (tokoh penting: Amin Husaini رحمه الله , Syakib Arselan رحمه الله dll)

Tahun 1925 M, Izzuddin al-Qassam رحمه الله  mendirikan gerakan “jihad” melawan Inggris, dengan membina, mempersenjatai para buruh dan petani. Hingga pada tanggal 20.11.1935 Al-Qassam رحمه الله  gugur dalam sebuah pertempuran melawan Inggris

Revolusi besar Palestina 1936-1939 M, sebagai balasan gugurnya al-Qassam رحمه الله, Farhan as-Sa’dy رحمه الله memimpin gerakan perlawanan dan meletuslah pada 15.04.1936. Revolusi 3 tahun ini dipimpin oleh Imam Masjid al-Aqsha, Al-Hajj Amin al-Husainy رحمه الله .

Klimaks perlawanan terjadi di musim panas 1938 gejolak terjadi dimana-mana, Inggris terdesak sehingga meminta pasokan tentara.

Perlawanan terus terjadi dan perkembangan global juga memanas, dengan terjadinya perang dunia kedua (PD 2) [1942-1945].

Para pemimpin Revolusi Palestina yang selamat dari operasi pembunuhan mulai bergerilya lagi dan sebagian bersembunyi di luar Palestina untuk menggalang dukungan.

Yahudi berhasil memancing emosi dan memanfaatkan pembantaian di Jerman oleh Hitler yang didramatisir sebagai Holoucost bahwa “mereka tak memiliki tempat yang aman”.

Terjadilah migrasi besar-besaran Yahudi ke Palestina

Pada 29.11.1947 Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi nomer 181 yang membagi wilayah Palestina menjadi dua: 54,7% untuk Israel (14.400 km2) dan 44,8% untuk Palestina (11.780 km2) dan 0,5 % Jerussalem/Al-Quds wilayah Internasional di bawah Pengawasan PBB. Putusan ini ditindaklanjuti oleh kedua pihak. Israel segera mendeklarasikan diri pada 14.05.1948.

Dan Palestina serta negara-negara Arab meresponnya dengan keras karena Israel sedang merancang pendudukan yang lebih luas. Perundingan buntu dan meletuslah Perang Arab-Israel 1. Dan Israel meraih kemenangan dan berhasil menduduki 77% wilayah Palestina.

Perang 1948 meninggalkan prahara kelam. 58% penduduk Palestina terusir dari tanah air mereka. (1.190.000 orang terusir keluar dari rumah mereka) 30.000 orang terombang-ambing di dalam wilayah pendudukan Israel, 478 desa dihancurkan, terjadi pembantaian besar-besaran, yang terkenal adalah pembantaian Dir Yasin, 09.04.1949, semua penduduk desa yang berjumlah 354 orang laki-laki dan perempuan dibantai. Jumlah tentara Arab : 34.000 orang, sementara Israel yang di dukung penuh Inggris memiliki 70.000 pasukan lengkap.

Tapi faktor utama kekalahan Arab karena para penguasa menarik pasukan masing-masing sehingga terpecah-pecah kekuatannya. Gagalnya koalisi dua kekuatan penting: Mesir-Suriah 1958-1961 menjadi faktor penting renggangnya suasana regional Jazirah Arab.

Tahun 1957 didirikan Gerakan Fatah, yang sebenarnya hasil binaan para aktivis Ikhwanul Muslimin di Gaza. Yaser Arafat رحمه الله ditahbis sebagai pimpinannya. 1957-1963, IM terlibat dalam gerakan ini sampai memutuskan untuk keluar.

Pada 13.01.1964 dalam KTT Liga Arab di Cairo merekomendasikan untuk mendirikan sebuah organisasi pembebasan Palestina. Dan pada 28.05.1964, dihadiri 422 representasi Palestina dideklarasikan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina)

Pada 05.06.1967 meletus Perang Arab-Israel untuk kedua kalinya. Peperangan enam hari kali ini lebih parah dimana sebagian wilayah Tepi Barat dan Gaza diduduki, bahkan Al-Quds juga jatuh ke tangan Israel. Dataran Sinai yang sebelumnya wilayah Mesir, seluas 61.198 km2 juga diduduki Israel. Dataran Golan wilayah Suriah seluas 1.150 km2 juga jatuh ke tangan Israel.

Tahun 1967-1970 meledaknya operasi jihad (istisyhad) sebagian dengan bom syahid. Jika tahun 1967 terdapat 12 operasi perbulannya, maka di tahun 1968 meningkat menjadi rata-rata 52 kali perbulan. Dan meningkat drastis menjadi 199/bulan pada tahun 1969, serta 279/bulan di tahun 1970. Israel merespon dengan menarget pembunuhan para pimpinan organisasi perlawanan, diantaranya tiga tokoh PLO yang dibunuh pada tanggal 10.04.1973.

06.10.1973 meletus Perang Arab-Israel ke-3. Suriah dan Mesir mengerahkan kekuatan terbaiknya. Israel berhasil dipukul mundur dari Sinai dan Golan.

Kondisi siaga satu dengan kekuatan logistik persenjataan yang bertahan hingga 80 hari, membuat ditandatanganinya kesepakatan penghentian perang pada 18.01.1974 yang memaksa penarikan seluruh pasukan Israel dari Sinai dan Dataran Golan.

September 1978 ditandatangi kesepakatan Camp David yang merugikan Palestina. Anwar Sadat terbunuh dalam sebuah parade militer di Mesir pada 06.10.1981 oleh salah satu pengawalnya.

08.12.1987 meletusnya intifadhah I sekaligus ditandai sebagai lahirnya gerakan perlawanan Islam (HAMAS). Syeikh Ahmad Yassin رحمه الله  adalah pimpinan spiritualnya.

Tahun 1990-an sebagai tanda masuknya PLO ke meja-meja perundingan dengan Israel. Pada tanggal 13.09.1993 ditandatangi Perjanjian Oslo, Rabin لعنة الله عليه bersedia menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat رحمه الله kesempatan menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa “memerintah” di kedua wilayah itu. Arafat “mengakui hak Negara Israel untuk eksis secara aman dan damai”.

Tahun 1994-1998 babak baru operasi syahid sayap militer HAMAS, Izuddin al-Qasam رحمه الله. Terutama setelah dipicu pembantaian di Masjid al-Ibrahimy pada 25.02.1994.

Tanggal 05.01.1996 Yahya Ayyash رحمه الله, seorang sarjana teknik elektro yang dijuluki “Sang Insinyur” berhasil dibunuh Israel. Konon ia diincar karena menyebabkan tewasnya lebih dari 70 orang Israel.

Selama 52 tahun Israel berdiri (1948-2000) Israel berhasil menghijrahkan 2.900.000 yahudi dari berbagai wilayah di dunia, ditambah dengan populasi tahun 1948 yang mencapai 650.000 plus angka kelahiran dsb. Total populasi pada tahun 2000 mencapai 4.947.000 jiwa atau sekitar 38% dari jumlah Yahudi di dunia.

Meletusnya intifadhah kedua dipicu kedatangan Ariel Sharon لعنة الله عليه ke halaman Masjid al-Aqsha pada 28.09.2000.

Tahun 2004 beberapa tokoh penting meninggal (Syeikh Ahmad Yasin [22.03.2004], Dr. Abdul Aziz Rantisi [17.04.2004], Yaser Arafat [ 11.11.2004])

09.01.2005 Mahmud Abbas Abu Mazen menang dalam Pilpres dengan 62.52%  dan resmi menggantikan Yaser Arafat رحمه الله sebagai Presiden Palestina. Namun, masa jabatannya berakhir pada 09.01.2009. Dikarenakan konflik internal Palestina (antara Gaza) serta agresi Israel ke Gaza 2008-2009, 2012 dan 2014. Maka hingga saat ini belum juga diadakan Pemilu.

Sementara Hamas menang dalam pemilu di Palestina pada 25.01.2006, berhasil mendapatkan 74 kursi parlemen dari 132 kursi yang tersedia.

Pada 14.06.2007 PLO mengadakan rapat darurat yang di antara keputusannya memberhentikan Ismail Haneah dari PM Palestina dan Pemerintahan bentukan HAMAS, serta mengangkat Salam Fayyadh sebagai PM Palestina baru untuk membentuk Pemerintahan Darurat pada 17.06.2007.

25 Juni 2006, Shalit لعنة الله عليه ditangkap oleh HAMAS yang menyerang sebuah pos tentara di Israel setelah melintasi perbatasan Jalur Gaza selatan masuk ke Israel melalui sebuah terowongan bawah tanah yang mereka gali dekat Kerem Shalom.

Tentara Israel Shalit لعنة الله عليه, ditukar dengan 1027 tawanan Palestina di penjara Israel pada Selasa (11/10/2011).

Agresi Senjata Zionis Israel

Pada tahun 2008-2009 terjadi serangan ke Gaza selama 22 hari. Yaitu dari 27 Desember 2008  dan berakhir pada tanggal 18 Januari 2009.

Israel mengulangi agresi pada tahun 2012. Memborbardir Gaza selama 8 hari. Sejak tanggal 14 November hingga tanggal 21 November 2012.

Dua tahun kemudian Israel kembali menyerang Gaza pada tanggal 8 Juli hingga 26 Agustus 2014.

Palestina Kini

Luas total  semua                               : 26.990  km2.

Otoritas Palestina                               : 6.220 km2

  (Gaza : 360 km2 dan Tepi Barat : 5.860 km2)

Wilayah pendudukan Israel            : 20.770 km2

Jumlah jiwa (sensus 2010)                : sekitar 11 juta jiwa

Palestina                                               : + 4.400.000 jiwa

  (Tepi Barat: 2,5 juta jiwa; Gaza: 1,9 juta jiwa)

Israel                                                    : + 6.600.000 jiwa

Tanggal-Tanggal

29 Nopember 1947     : Pembagian Wilayah (PBB)

14 Mei 1948                  : Deklarasi Negara Zionis Israel

Januari 1949                : Perang Arab-Israel 1 yang berakhir terusirnya 700.000 orang

                                          Palestina dari rumah mereka ke Tepi Barat dan Gaza

8 Desember 1987         : Intifadhah (Meletusnya Perlawanan)

10 Oktober 1993          : Berdirinya Otoritas Palestina

29 Nopember 2012     : Palestina; Non-member Observer State (PBB)

Gambar dan Diagram

SpiritofAlAqsa

Kisi-kisi pilu nestapa Baitul Maqdis,

Setumpuk asa tentang iman dan harapan kemenangan,

Menyandarkan kepada Dzat yang Serba Maha.

Edinburgh, UK

Selasa, 07.11.2017

Bi-r-Ruh Bi-d-Dam… Nafdiika Yaa Aqsha!!!

source : Spirit of Aqsa

مَرْحَبًا يَا رَمَضَان ١٤٣٩هـ

أشْهَدُ أن لا إلهَ إلا الله نَسْتَغْفِرُ الله نسأَلُكَ الجنَّةَ ونَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّار

اللهمَّ انَّكَ عَفُوٌ تُحبُّ العفْوَ فَاعْفُ عَنَّا  يا كريم

FB_IMG_1496028819068

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

تعظيمُ الأشهُر الحُرُم

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

ألقى فضيلة الشيخ أسامة بن عبد الله خياط – حفظه الله – خطبة الجمعة , المسجد الحرام مكة المكرمة 6  رجب 1439,بعنوان: “تعظيمُ الأشهُر الحُرُم”، والتي تحدَّث فيها عن تعظيمِ بعضِ الأزمِنة والأمكِنة في كتابِ الله وسُنَّة رسولِه – صلى الله عليه وسلم -، ومِن ذلك: الأشهُر الحُرُم؛ حيث بيَّن سببَ تحريمِها، وأولَ مَن حرَّمَها، وذكَرَ معنى ظُلم النفسِ الوارِدِ في الآياتِ، كما حثَّ على اغتِنامِ الأوقاتِ الفاضِلةِ بالأعمالِ الصالِحةِ.

 

الخطبة الأولى

الحمدُ لله حمدَ مَن يرجُو مِن الله النَّجاةَ وحُسنَ العُقبَى، أحمدُه – سبحانه – على ترادُفِ نعمِه التي لا تُحصَى، وأشهدُ أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الأسماءُ الحُسنى، والصفاتُ العُلَى، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبيَّنا محمدًا عبدُه ورسولُه النبيُّ المُجتبَى، والرسولُ المُرتضَى، صاحِبُ الحَوضِ والشَّفاعةِ العُظمَى، اللهم صلِّ وسلِّم على عبدِك ورسولِك مُحمدٍ، وعلى آلهِ وصحبِه أُولِي الرِّيادة والزَّهادة والنُّهَى.

أما بعد:

فاتَّقُوا الله – عباد الله -، وراقِبُوه وعظِّمُوه، وأنِيبُوا إليه وأطيعُوه، واحذَرُوا أسبابَ سخَطِه ولا تعصُوه، ﴿وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾ [البقرة: 281].

عباد الله:

إن خيرَ ما أُوتِي المرءُ مِن خصالٍ: حِسٌّ مُرهَف، وشُعورٌ يقِظٌ، وقلبٌ نقِيٌّ، وعقلٌ فطِنٌ يبعَثُ على تعظيمِ ما عظَّمَه الله، والوقوفِ عند حُدودِه، واستِشعارِ حُرمةِ ما حرَّمَه، والنُّفرة مِن انتِهاكِها بحُسن الامتِثال لأمرِه ونهيِه، وكمال الانقِيادِ لشرعِه، ورجاءِ جميلِ العُقبَى في الإخلاصِ له، والاتِّباع لخاتَمِ أنبيائِه ورُسُله – عليه أفضلُ الصلاة والسلام -، بالحُظوة برِضوانِه ومغفرتِه، ونُزولِ دار كرامتِه مع ﴿الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا﴾ [النساء: 69].

عباد الله:

إن الله تعالى يختصُّ بحكمتِه ورحمتِه ما شاءَ مِن الأزمِنةِ والأمكِنةِ بما شاءَ مِن العباداتِ والقُرُبات التي يزدلِفُ العبادُ القانِتُون المُخبِتُون بها إليه، مُبتَغين بها الوسيلةَ في سَيرهم إلى ربِّهم، بحُسن القُدوم عليه، ويُمن الوُفودِ عليه.

ولقد كان مما كتبَه – عزَّ اسمُه -، وافترَضَه على لسانِ خليلِه إبراهيم وولدِه إسماعيل – عليهما السلام -: تحريمُ أشهُرٍ مِن السنةِ وتعظيمُها، بتحريمِ القِتالِ فيها، وتواتَرَ ذلك التحريمُ حتى نقَلَتْه العربُ بالتواتُر القوليِّ والعمليِّ، وتلك هي الأشهُرُ الأربعةُ التي أشارَ إليها – سبحانه – بقولِه: ﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ﴾ [التوبة: 36].

وبيَّنَها رسولُ الهُدى – صلواتُ الله وسلامُه عليه – بقولِه في خُطبة حجَّة الوداعِ: «إنَّ الزمانَ قد استَدارَ كهيئتِه يوم خلقَ الله السماوات والأرض، السنةُ اثنَا عشر شهرًا، مِنها أربعةٌ حُرُمٌ، ثلاثةٌ منها مُتوالِيات: ذو القَعدة، وذُو الحجَّة، ومُحرَّم، ورجبُ مُضَر الذي بين جُمادَى وشعبان»؛ أخرجه الشيخان في “صحيحيهما” مِن حديث أبي بَكْرَة – رضي الله عنه -.

وإنما كانت الأشهُرُ الحُرُمُ على هذه الصفة: ثلاثةٌ سَردٌ وواحدٌ فردٌ – كما قال الحافظُ ابنُ كثيرٍ – رحمه الله -: “لأجلِ مناسِكِ الحجِّ والعُمرة، فحُرِّم قبل شهر الحجِّ شهرٌ وهو ذُو القَعدة؛ لأنهم يقعُدُون فيه عن القِتال، وحُرِّم شهرُ ذي الحجَّة؛ لأنهم يُوقِعُون فيه الحجَّ، ويشتَغِلُون فيه بأداءِ المناسِكِ، وحُرِّم بعدَه شهرٌ آخرُ – وهو المُحرَّم -؛ ليرجِعُوا فيه إلى نائِي بلادِهم آمِنِين، وحُرِّم رجبُ في وسَطِ الحَول؛ لأجلِ زيارةِ البيتِ والاعتِمارِ به لمَن يقدُمُ إليه مِن أقصَى جزيرةِ العربِ، فيزُورُه ثم يعودُ إلى وطنِه آمِنًا”. اهـ كلامُه – رحمه الله -.

وأما استِدارةُ الزمان: فهي عودةُ حسابِ الشُّهور إلى ما كان عليه مِن أول نظامِ الخَلقِ الذي كتبَه الله وقدَّرَه، فوقَعَ حجُّه – صلى الله عليه وسلم – في تلك السنةِ في ذي الحجَّة الذي هو شهرُه الأصليُّ؛ ذلك أنَّهم – كما قال أهلُ العلم بالحديث، كالإمام الخطَّابيِّ والحافظِ ابن حجرٍ وغيرِهما -: “كانُوا على أنحاء؛ مِنهم مَن يُسمِّي المُحرَّم صفرًا، فيُحِلُّ فيه القتالَ، ويُحرِّمُ القتالَ في صفر، ويُسمِّيه المُحرَّم.

ومِنهم مَن كان يجعلُ سنةً هكذا، وسنةً هكذا.

ومِنهم مَن يجعله سنتَين هكذا، وسنتَين هكذا.

ومِنهم مَن يُؤخِّرُ صفرًا إلى ربيعٍ الأول، وربيعًا إلى ما يلِيه، وهكذا، إلى أن يصِيرَ شوالُ ذا القَعدة، وذو القَعدة ذا الحجَّة، ثم يعودُ العددُ على الأصلِ، فكانُوا يُخالِفُون بين أشهُرِ السنةِ بالتحليلِ والتحريمِ، والتقديمِ والتأخيرِ،لأسبابٍ تعرِضُ لهم؛ مِنها: استِعجالُ الحربِ، فيستحِلُّون الشهرَ الحرامَ، ثم يُحرِّمُون بدَلَه شهرًا غيرَه، فتتحوَّلُ في ذلك شهورُ السنة وتتبدَّلُ”. اهـ.

وذلك هو النَّسيءُ الذي ذمَّه الله تعالى، وبيَّن أنه زيادةٌ في الكُفر؛ لأنه تشريعُ ما لم يأذَن به الله، مُضافٌ إلى أصلِ كُفرهم بالله بالشركِ به، فقال – عزَّ مِن قائِل -: ﴿إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ﴾ [التوبة: 37].

فتشريعُ الحلال والحرام والعبادةِ – يا عباد الله – هو حقٌّ لله وحدَه؛ فمَن شرعَ مِن عند نفسِه شرعًا، فقد نازَعَ الله – عزَّ وجل – في حقِّه، وذلك شِركٌ في ربوبيَّته، كما دلَّ عليه قولُه – سبحانه -: ﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾ [الشورى: 21].

فيُضِلُّون به سائِرَ مَن يتَّبِعهم مِن الكافرين الذين يتَّبعُونَهم فيه، ويتوهَّمُون أنهم لم يخرُجُوا به عن مِلَّةِ إبراهيم – عليه الصلاة والسلام -؛ حيث واطَؤُوا فيه عِدَّةَ ما حرَّمَه الله مِن الشُّهور في مِلَّتِه، وإن أحلُّوا ما حرَّمَه الله، وهو المقصُودُ بالذاتِ مِن شرعِه لا مُجرَّدُ العدد. وهذا كلُّه مِن ظُلم النفسِ في الشهرِ الحرامِ، الذي نهَى عنه ربُّنا بقولِه: ﴿فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ﴾ [التوبة: 36].

وظُلمُ النفسِ – يا عباد الله – يشمَلُ كلَّ محظُورٍ يُوبِقُ المرءُ فيه نفسَه، ويدخُلُ فيه: هَتكُ حُرمةِ الشهرِ الحرامِ دُخُولًا أوليًّا مُحقَّقًا، وهذا الظُّلمُ للنفسِ، كما يكُونُ بالشِّركِ بالله تعالى، وهو أعظمُ ظُلمٍ لها، كما قال تعالى على لِسانِ لُقمان: ﴿يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾ [لقمان: 13].

فإنه يكونُ أيضًا بالتبديلِ والتغييرِ في شَرعِ الله، والتحليلِ والتحريمِ بمُجرَّد الهوَى، والآراء الشخصيَّة، والاجتِهاداتِ والاستِحساناتِ التي لا يُسنِدُها دليلٌ صحيحٌ مِن كتابِ ربِّنا أو سُنةِ نبيِّنا – صلى الله عليه وسلم -.

ويكونُ ظُلمُ النفسِ أيضًا باقتِرافِ الآثامِ واجتِراحِ السيئاتِ في مُختلَفِ دُرُوبِها، فالذنبُ سُوءٌ وشُؤمٌ، وظُلمٌ للنفسِ في كل زمانٍ؛ لأنه اجتِراءٌ على العظيمِ المُنتقِمِ الجبَّار، المُحسنِ إلى عبادِه بالنِّعَم مِن نعمِ الخاصَّةِ والعامَّةِ، المُتحبِّبِ إليهم بالآلاء – وهو الغنيُّ عنهم -، لكنَّه في الشهرِ الحرامِ أشدُّ سُوءًا، وأعظمُ جُرمًا، وأفدَحُ ظُلمًا؛ لأنه جامِعٌ بين الاجتِراءِ والاستِخفافِ، وبين امتِهانِ وانتِهاكِ حُرمةِ ما حرَّمَه الله، وعظَّمَه واصطَفاه.

فكما أن المعاصِي تُغلَّظُ في البلَدِ الحرامِ لقولِه – عزَّ اسمُه -: ﴿وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ﴾ [الحج: 25]، فكذلك الشهرُ الحرامُ تُغلَّظُ فيه الآثام، ولهذا غُلِّظَت فيه الدِّيةُ عند كثيرٍ مِن العُلماء، كالإمام الشافعيِّ – رحمه الله – وغيرِه.

قال ابنُ عباسٍ – رضي الله عنهما -: “إن الله اختصَّ مِن الأشهُرِ أربعةَ أشهُرٍ، جعلَهنَّ حرامًا وعظَّمَ حُرماتهنَّ، وجعلَ الذنبَ فيهنَّ أعظمَ، والعملَ الصالِحَ والأجرَ أعظمَ”.

وقال قتادةُ – رحمه الله -: “إن الظُّلمَ في الأشهُرِ الحُرُم أعظمُ خطيئةً ووِزرًا مِن الظُّلم فيما سِواهَا، وإن كان الظُّلمُ على كل حالٍ عظيمًا، ولكنَّ الله يُعظّمُ مِن أمرِه ما يشاءُ”. اهـ.

فاتَّقُوا الله – عباد الله -، وعظِّمُوا ما عظَّمَ الله، ومِنها هذا الشهرُ الحرامُ الذي أظلَّكُم، فعظِّمُوه بما شرَعَ الله، وباتِّباعِ سُنَّة الحبيبِ الهادِي رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم -، وحذارِ مِن الابتِداعِ في دينِ الله ما لم يأذَن به الله.

نفَعَني الله وإياكم بهدي كتابه، وبسنَّة رسولِه – صلى الله عليه وسلم -، أقولُ قَولي هذا، وأستغفِرُ اللهَ العظيمَ الجليلَ لي ولكم ولكافَّة المُسلمين من كل ذنبٍ، إنه هو الغفورُ الرحيم.

 

الخطبة الثانية

 

الحمدُ لله الذي جعلَ لبعضِ الأزمانِ مزيدًا مِن الفضلِ والحُرمةِ، أحمدُه – سبحانه – على عَميمِ الخير والنعمَة، وأشهدُ أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له يشمَلُ العبادَ بالعفوِ والغُفرانِ والمِنَّة، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبيَّنا مُحمدًا عبدُه ورسولُه المبعُوثُ إلى خيرِ أُمَّة، اللهم صلِّ وسلِّم على عبدِك ورسولِك مُحمدٍ، وعلى آله وصحبِه ذوِي الحِجَى والحِكمة.

أما بعد .. فيا عباد الله:

حرِيٌّ بمَن رضِيَ بالله ربًّا، وبالإسلامِ دينًا، وبمُحمدٍ رسُولًا أن يحجُزَ نفسَه عن الوُلُوغِ في الذنوبِ، وينأَى بها عن مزالِقِ الخطايَا، ويكُفَّها عن التلوُّثِ بأرجاسِ الإثمِ، وأن يترفَّعَ عن دعاوَى الهوَى والنَّزَواتِ والشَّطَحات المُوبِقات المُهلِكات، وتسويلِ الشيطانِ، وتسويلِ النفسِ الأمَّارة بالسُّوء، وخطَراتِ الشيطانِ وخطَواتِه، وأن يذكُرَ على الدوامِ أن الحياةَ أشواطٌ ومنازِل، تفنَى فيها الأعمار، وتنتَهِي الآجال، وتنقطِعُ الأعمال، ولا يدرِي المرءُ متى يكونُ الفِراقُ لها، وكَم مِن الأشواطِ يقطَعُ مِنها، وإلى أي مرحلةٍ يقِفُ به المسِيرُ.

فالسَّعيدُ مَن سمَت نفسُه إلى طلَبِ أرفَعِ المراتِبِ، وإلى ارتِقاءِ أعلَى الدرجاتِ مِن رِضوانِ الله ومحبَّتِه وغُفرانِه.

فاتَّقُوا الله – عباد الله – باستِدراكِ ما فاتَ، واغتِنامِ ما بقِيَ مِن الأزمِنةِ الشريفةِ، والأوقاتِ الفاضِلةِ المُبارَكة، والتِزامِ المسلَكِ الراشِدِ والنَّهجِ السَّديدِ، في هذا الشهرِ الحرامِ، وفي كل شُهورِ العام بالإقبالِ على موائِدِ الطاعة، ورِياضِ القُرُبات، والاستِمساكِ بما صحَّ وثبَتَ عن سيِّد الأنامِ – عليه الصلاة والسلام -، وأعرِضُوا عن كل مُبتدَعٍ لا أصلَ له في كتابِ الله ولا في سُنَّةِ رسولِه – صلى الله عليه وسلم -.

قال الحافظُ ابن رجبٍ – رحمه الله -: “وأما الصِّيامُ فلم يصِحَّ في فضلِ صَومِ رجَب بخُصُوصِه شيءٌ عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم -، ولا عن أصحابِه”.

يعني: فضلًا خاصًّا في رجب، في صيامِ رجب بخُصُوصِه، وأما الصيامُ مُطلقًا فهو مندُوبٌ إليه في رجب وفي غيرِه.

وقال الحافظُ ابن حجرٍ – رحمه الله – في رسالتِه “تبيينُ العجَب في بيانِ ما ورَدَ في فضلِ رجَب”: “لم يرِد في فضلِ شهرِ رجَب ولا في صِيامِ شيءٍ مِنه مُعيَّن، ولا في قِيامِ ليلةٍ مخصُوصةٍ فيه حديثٌ صحيحٌ يصلُحُ للحُجَّة”.

ثم أورَدَ – رحمه الله – ما ورَدَ مِن الأحاديث في ذلك، وهي ما بين موضُوعٍ مُختلَقٍ على رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – وهو الأكثَرُ -، وبين ضعيفٍ لا يُحتَجُّ بمثلِه.

فاتَّقُوا الله – عباد الله -، وعظِّمُوا ما عظَّمَه الله باتِّباعِ رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم -.

واذكُرُوا على الدوام أن اللهَ تعالى قد أمركم بالصلاة والسلام على خيرِ الأنام، فقال في أصدَقِ الحديثِ وأحسنِ الكلامِ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].

اللهم صلِّ وسلِّم على عبدِك ورسولِك محمدٍ، وارضَ اللهم عن خلفائه الأربعة: أبي بكرٍ، وعُمر، وعُثمان، وعليٍّ، وعن سائر الآلِ والصحابةِ والتابعين، وعن أزواجِه أمَّهات المُؤمنين، والتابِعين ومَن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وعنَّا معهم بعفوِك وكرمِك وإحسانِك يا أكرَمَ الأكرمين.

اللهم أعِزَّ الإسلام والمسلمين، اللهم أعِزَّ الإسلام والمسلمين، اللهم أعِزَّ الإسلام والمسلمين، واحمِ حَوزةَ الدين، ودمِّر أعداءَ الدين، وسائِرَ الطُّغاة والمُفسدين، وألِّف بين قلوب المسلمين، ووحِّد صفوفَهم، وأصلِح قادتَهم، واجمَع كلمَتَهم على الحقِّ يا رب العالمين.

اللهم انصُر دينَك وكتابَك، وسنَّةَ نبيِّك محمد – صلى الله عليه وسلم -، وعبادَك المؤمنين المجاهدين الصادقين.

اللهم آمِنَّا في أوطاننا، وأصلِح أئمَّتنا وولاةَ أمورنا، واجعَل ولايتَنا فيمَن خافَك واتَّقاك، واتَّبعَ رِضاك يا رب العالمين.

اللهم أيِّد وليَّ أمرنا، واحفَظه بحفظِك، ووفِّقه بتوفيقِك، اللهم اجعَل عملَه في رِضاك، اللهم وفِّقه لما تحبُّ مِن الأقوال والأعمال يا رب العالمين.

اللهم أحسِن عاقبَتَنا في الأمور كلِّها، وأجِرنا من خِزي الدنيا وعذاب الآخرة.

اللهم إنا نسألُك فعلَ الخيرات، وتركَ المُنكَرات، وحُبَّ المساكين، وأن تغفِرَ لنا وترحمَنا، وإذا أردتَّ بقومٍ فتنةً فاقبِضنا إليك غيرَ مفتُونين.

اللهم إنا نعوذُ بك من زوالِ نعمتِك، وتحوُّل عافيتِك، وفُجاءة نقمتِك، وجميعِ سخَطِك.

اللهم لا تُؤاخِذنا بما فعلَ السُّفهاءُ مِنَّا، اللهم لا تُؤاخِذنا بما فعلَ السُّفهاءُ مِنَّا، اللهم لا تُؤاخِذنا بما فعلَ السُّفهاءُ مِنَّا، اللهم إنا نعتذِرُ إليك مما صنَعَ السُّفهاءُ مِنَّا يا ربَّ العالمين.

اللهم أصلِح لنا ديننا الذي هو عصمةُ أمرنا، وأصلِح لنا دنيانا التي فيها معاشُنا، وأصلِح لنا آخرتنا التي إليها معادُنا، واجعَل الحياة زيادةً لنا في كل خير، والموتَ راحةً لنا من كل شر.

اللهم اشفِ مرضانا، وارحَم موتانا، وبلِّغنا فيما يُرضِيك آمالَنا، واختِم بالباقِيات الصالِحات أعمالَنا.

اللهم انصُر المُسلمين في كل مكان، اللهم انصُرهم في الغوطة الشرقيَّة في بلاد الشام، وفي اليمَن، وفي فلسطين، وفي ليبيا، وفي إفريقيا الوُسطَى، وفي كل مكان، اللهم احفَظهم، وفي ميانمار، اللهم احفَظ المُسلمين في ميانمار، اللهم احفَظهم وأيِّدهم، اللهم احفَظهم وأيِّدهم، وانصُرهم على عدوِّك وعدوِّهم يا رب العالمين.

﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾ [الأعراف: 23].

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ [البقرة: 201].

وصلِّ الله وسلِّم على عبدِك ورسولِك نبيِّنا محمدٍ، وعلى آله وصحبِه أجمعين، والحمدُ لله رب العالمين.

 

logo-string  

Hukum Muslim Merayakan Tahun Baru Imlek

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

Riyadh-KSA, 29 Rabi’ul Awwal 1434 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang China. Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (bahasa China: 正月; pinyin: zhēng yuè) di penanggalan China dan berakhir dengan Cap Go Meh 十五冥 元宵节 di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru Imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti “malam pergantian tahun”.

Di China, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Imlek secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan China di luar RRC seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 masehi “Tahun China” didapat pada tahun 4707, 4706, atau 4646.

Dirayakan di daerah dengan populasi suku China, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang China dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis RRC, serta budaya yang dengannya orang China berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di daratan RRC, Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Di Indonesia, Sejak tahun 1968 s/d 1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang untuk dirayakan di depan umum. Hal itu berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, yang dikeluarkan oleh Presiden Soeharto. Serta melarang segala hal yang berbau China, termasuk di antaranya tahun baru Imlek.

Namun, sejak kepemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, masyarakat keturunan China di Indonesia, kembali mendapatkan kebebasan dalam merayakan tahun baru Imlek, yaitu di mulai pada tahun 2000. Di mana, Presiden Abdurrahman Wahid secara resmi mencabut Inpres Nomor 14/1967. Serta menggantikannya dengan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Selanjutnya, baru pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu Hari Libur Nasional, oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003 hingga saat ini. (Sumber: Wikipedia)

Kali ini Rumaysho.com akan menjelaskan hukum merayakan imlek bagi seorang muslim.

Masuk Dalam Islam Secara Kaffah

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaaffah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).

Kata Mujahid, maksud ‘masuklah dalam Islam secara keseluruhan‘ berarti “Lakukanlah seluruh amalan dan berbagai bentuk kebaikan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir). Artinya di sini, jika suatu kebaikan bukan dari ajaran Islam, maka seorang muslim tidak boleh bercapek-capek melakukan dan memeriahkannya. Karena kita diperintahkan dalam ayat untuk mengikuti seluruh ajaran Islam saja, bukan ajaran di luar Islam.

Ketika menjelaskan ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Laksanakanlah seluruh ajaran Islam, jangan tinggalkan ajaran Islam yang ada. Jangan sampai menjadikan hawa nafsu sebagai tuan yang dituruti. Artinya, jika suatu ajaran bersesuaian dengan hawa nafsu, barulah dilaksanakan dan jika tidak, maka ditinggalkan,. Yang mesti dilakukan adalah hawa nafsu yang tunduk pada ajaran syari’at dan melakukan ajaran kebaikan sesuai kemampuan. Jika tidak mampu menggapai kebaikan tersebut, maka dengan niatan saja sudah bisa mendapatkan pahala kebaikan.” Lihat Taisir Al Karimir Rahman karya Syaikh As Sa’di tentang tafsiran ayat di atas.

Islam Hanya Mengenal Dua Hari Raya Besar

Dalam Islam, hari raya besar itu cuma dua, tidak ada yang lainnya, yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Kalau dikatakan bahwa dua hari raya di atas (Idul Fithri dan Idul Adha) yang lebih baik, maka selain dua hari raya tersebut tidaklah memiliki kebaikan. Termasuk dalam hal ini perayaan yang diadakan oleh sebagian muslim berdarah China yaitu perayaan Imlek. Sudah seharusnya setiap muslim mencukupkan dengan ajaran Islam yang ada, tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Karena Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS.Al Maidah: 3).

Kalau ajaran Islam sudah sempurna, maka tidak perlu ada perayaan baru lagi.

Perayaan di luar dua perayaan di atas adalah perayaan Jahiliyah karena yang dimaksud ajaran jahiliyah adalah setiap ajaran yang menyelisihi ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga merayakan perayaan selain perayaan Islam termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ مُلْحِدٌ فِى الْحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ

Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari no. 6882).

Itu Bukan Perayaan Umat Islam

Apalagi jika ditelusuri, perayaan Imlek ini bukanlah perayaan kaum muslimin. Sehingga sudah barang tentu, umat Islam tidak perlu merayakan dan memeriahkannya. Tidak perlu juga memeriahkannya dengan pesta kembang api maupun bagi-bagi ampau, begitu pula tidak boleh mengucapkan selamat tahun baru Imlek.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud no. 4031 dan Ahmad 2: 92. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Tidak boleh pula seorang muslim bersikap boros pada perayaan non-muslim dengan memeriahkannya melalui pesta kembang api. Allah Ta’ala berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27)

Memberi ucapan selamat tahun baru Imlek, ada yang mengucapkan do’a ‘gong he xin xi’ (hormat bahagia menyambut tahun baru) atau ‘gong xi fa cai’ (hormat bahagia berlimpah rejeki) pun terlarang. Hal ini disebabkan karena telah ada klaim ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa mengucapkan selamat atau mendoakan untuk perayaan non-muslim itu haram. Ijma’ adalah satu dalil yang menjadi pegangan. Nukilan ijma’ tersebut dikatakan oleh Ibnul Qayyim, di mana beliau rahimahullah berkata,

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم ، فيقول: عيد مبارك عليك ، أو تهْنأ بهذا العيد ونحوه ، فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثماً عند الله ، وأشد مقتاً من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس ، وارتكاب الفرج الحرام ونحوه ، وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّأ عبداً بمعصية أو بدعة ، أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal dan selamat tahun baru imlek, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441).

Kalau dikatakan para ulama sepakat, maka itu berarti ijma’. Dan umat tidak mungkin bersepakat dalam kesesatan, sehingga menyelisihi ijma’ itulah yang terkena klaim sesat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An Nisa’: 115).

Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) ulama kaum muslimin.

Bersikap toleran bukan berarti membolehkan segala hal yang dapat meruntuhkan akidah seorang muslim. Namun toleran yang benar adalah membiarkan mereka merayakan tanpa perlu loyal (wala’) pada perayaan mereka.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Maklumat MUI Sumatera Barat, Larangan Perayaan Hari Valentine

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لا نبي بعده
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا ُأَغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَّاصِرِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ.

Bersama ini kami sampaikan kepada seluruh umat Islam, terutama di Sumatera Barat bahwa Perayaan hari valentine (valentine day) adalah tradisi yang berasal peristiwa sejarah dan keyakinan agama tertentu di luar Islam bahkan bahkan menjadi ritual ibadah di tengah-tengah mereka. Perayaan hari valentine (valentine day) merupakan hari mengumbar nafsu syahwat yang berdampak kepada terjadinya pergaulan bebas, perzinaan dan kemaksiatan lainnya di tengah masyarakat khususnya di kalangan muda-mudi.

Memperhatikan berbagai fakta di atas maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Barat menyatakan bahwa: terlibat dalam kegiatan hari valentine dalam bentuk apapun apalagi sampai merayakannya, bagi umat Islam adalah haram karena ikut memasyarakatkan kemaksiatan, mensyiarkan kekufuran, melibatkan diri dalam ritual/ibadah agama lain dan menyerupai kaum kafir dalam hal yang terlarang untuk menyerupai mereka. Keseluruhan prilaku tersebut telah dilarang oleh Allah سبحانه و تعالى  dan Rasul-Nya dalam Al-Quran dan Sunnah.

Akhirnya kami menghimbau umat Islam, mari kita senantiasa berpegang teguh dengan ajaran agama kita (Islam) dan menjauhkan diri dari pengaruh ajaran agama lain agar selamat dunia dan akhirat. Amin.

Demikianlah Maklumat ini disampaikan, semoga dapat dipahami dan diamalkan.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Padang, 27 Jumadil Ula 1439 H / 13 Februari 2018 M

Komisi Fatwa MUI
Provinsi Sumatera Barat

dto                                                                                                                                                      dto

Dr. H. Zulkarnaini, M.Ag                                                                            Dr. Zainal Azwar, M.Ag
Ketua                                                                                                                                      Sekretaris

 

Mengetahui
Majelis Ulama Provinsi Sumbar

dto                                                                                                                                                       dto
Buya Gusrizal Gazahar, Lc, M.Ag                                                              Buya Zulfan, S.Hi, M.H
Ketua Umum                                                                                                           Sekretaris Umum

Pepatah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

  •  Hari ini (di dunia) amal perbuatan tanpa hisab dan esok hari (di akhirat) hisab tanpa beramal.
  • Timbulnya fitnah pertama kali disebabkan oleh hawa nafsu yang dituruti dan hukum-hukum ciptaan manusia yang diikuti.
  • Yang paling bermanfaat bagi masyarakat ialah matinya para penjahat.
  • Apabila Anda lelah karena melakukan kebajikan, maka kelelahan Anda akan hilang dan kebajikan tetap adanya.
  • Cinta asmara adalah suatu kelelahan yang kebetulan berjumpa dengan hati yang kosong.
  • Wara’ yang paling baik ialah menjauhi segala yang syubhat (segala hal yang meragukan).
  • Keimanan berdiri diatas empat pilar : kesabaran, keyakinan, keadilan dan jihad.
  • Hadiah dapat mencegah keresahan di dunia dan sedekah akan mencegah keresahan di akhirat.
  • Jangan malu memberi yang sedikit karena tidak memberi adalah lebih sedikit dari itu.
  • Awal mula menuntut ilmu diam. Yang kedua mendengar dengan tekun. Yang ketiga faham dan hafal. Yang keempat mengamalkannya. Yang kelima menyebarluaskannya.
  • Tuntutlah ilmu sejak kecil, agar dikemudian hari Anda menjadi pemimpin. Tuntutlah ilmu meskipun bukan karena Allah. Sesungguhnya kelak ilmu itu akan menjadi karena Allah.
  • Alangkah indahnya mahkota tetapi lebih indah jika ada di kepala raja. Alangkah indahnya mutiara (perhiasan), tetapi lebih indah jika ia menghias leher si gadis. Alangkah indahnya nasihat dan pelajaran, tetapi seorang alim yang takwa dan shaleh lebih indah dari semua itu.
  • Mendengar dari satu pihak masih gelap dan mendengar dari dua belah pihak akan menjadi terang (persoalannya).
  • Menjadi orang yang kalah tetapi benar (adil), lebih baik daripada menang tapi zalim.
  • Hak harus diperjuangkan dengan gigih, kalau tidak maka Hak pasti dizalimi oleh kebatilan.
  • Alangkah sulitnya melakukan kebajikan dan alangkah mudahnya merusaknya.
  • Paling baik kebanggaan ialah Anda tidak bangga.
  • Tinggalkanlah dosa-dosa sebelum dosa-dosa itu meninggalkan Anda.
  • Safar (perjalanan) adalah sebagian dari siksaan tetapi tidak banyak orang yang menyadarinya.
  • Seorang jahil tampak kecil walaupun sudah lanjut usia dan seorang alim tampak tua walaupun muda usia.
  • Didiklah keluarga dan anak-anak Anda hidup sederhana. Apabila kelak mereka hidup sederhana tidak akan mengeluh.
  • Jangan terlalu mengandalkan kesehatan dan kekayaan, karena dalam sekejap ia dapat berobah menjadi penyakit dan kemiskinan.
  • Menolak dengan sikap yang baik adalah lebih baik daripada menjanjikan untuk waktu yang belum pasti.
  • Janji ibarat wajah dan menepati janji ibarat kecantikan wajah.
  • Hari Raya ialah hanya bagi orang yang diterima Allah shaumnya dan disyukuri shalat malamnya (qiyaam). Tiap hari dimana di dalamnya tidak berbuat maksiat kepada Allah, maka itulah Hari Raya.
  • Yang sedikit dari Allah lebih mulia dan terhormat daripada yang banyak dari manusia, meskipun kedua-duanya dari Allah.
  • Tidak ada perdagangan yang lebih baik daripada amal shaleh dan tidak ada keuntungan yang lebih baik daripada pahala dari Allah.
  • Rezeki ada dua macam, yaitu yang Anda berupaya mencarinya dan yang datang sendiri mencarimu.
  • Barangsiapa ridho dengan rezeki pemberian Allah, maka dia tidak akan menyesali apa yang terlepas dari tangannya.
  • Tiap kenikmatan ada kunci pembuka dan selot penutupnya. Kuncinya adalah usaha dan sabar dan selot penutupnya adalah kemalasan.
  • Segala sesuatu ada tenggang waktu dan ajalnya.
  • Seseorang yang berakal mengambil pelajaran dari pendidikan adab (sopan santun, tata cara) dan binatang mengambil pelajaran dari pukulan (cambuk).
  • Akal seorang penulis terletak pada penanya.
  • Seorang yang arif membeli buku untuk dibaca dan dikaji, dan bukan untuk jadi hiasan lemari.
  • Lidah adalah alat untuk menerjemahkan apa yang ada dalam hati Anda, maka janganlah mengucapkan sesuatu yang tidak ada pada hati nurani Anda.
  • Perbanyaklah bergaul dengan Ulama dan berdialog (diskusi) dengan para arif dan bijaksana.
  • Jangan mengokohkan kekuasaan dengan mengalirkan darah orang-orang yang tidak berdosa.
  • Berpikirlah positif, tidak peduli seberapa keras kehidupanmu.
  • Orang yang kikir (pelit) mengumpulkan harta untuk ahli warisnya, sedang dia sendiri tidak menikmatinya dalam kehidupannya. Ini ibarat anjing pemburu yang menangkap mangsa untuk dimakan orang lain.
  • Tiap orang mempunyai dua mitra usaha dalam harta miliknya, yaitu ahli warisnya dan peristiwa (kejadian/musibah) yang datang dengan tiba-tiba.
  • Permusuhan kaum lemah (miskin) terhadap yang kuat, kaum yang buruk perangainya terhadap kaum yang arif bijaksana dan permusuhan orang-orang jahat terhadap yang baik, adalah tabiat masyarakat yang tidak dapat dirobah.
  • Musuh yang paling ringan makarnya terhadap Anda ialah yang paling terang-terangan memusuhi Anda.
  • Apabila orang berprasangka baik terhadap Anda, maka jagalah prasangkanya itu.
  • Bukanlah kebaikan kalau ia dicapai dengan kejahatan.
  • Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.
  • Seburuk-buruk bekal di akhirat ialah menzalimi rakyat.
  • Alangkah indahnya kerendahan hati orang kaya terhadap fakir miskin.
  • Berbahagialah orang yang dapat menjadi tuan bagi dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya, dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya.
  • Kawan setia adalah keluarga sejiwa dan saudara kandung adalah keluarga sedarah daging.
  • Menjauhnya keluarga dekat lebih menyakitkan daripada pukulan orang yang tidak dikenal.
  • Seorang pengecut ialah yang berani terhadap kawan tetapi takut kepada lawan.
  • Ucapan sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yang diwarisi nenek moyang.
  • Kawan Anda yang paling setia ialah yang memelihara kesetiakawanan dalam tiga hal, yaitu : ketika Anda terkena musibah, ketika Anda tidak disampingnya dan sesudah Anda wafat.
  • Jangan menjadikan musuh kawanmu sebagai kawan, karena itu berarti memusuhi kawanmu.
  • Orang yang tidak mengindahkan (memperdulikan) Anda itulah sebenarnya musuh Anda.
  • Seorang yang iri dengki merasa bahwa hilangnya kenikmatan Anda adalah sesuatu kenikmatan baginya.
  • Jangan iri dan dengki, sesungguhnya iri dengki akan menggerogoti iman sebagaimana api menggerogoti kayu bakar.
  • Siksalah para pendengki Anda dengan menyantuni mereka.
  • Orang yang paling keji ialah yang mengadukan orang yang lemah kepada penguasa yang zalim.
  • Empat perkara yang kecilnya adalah besar, yaitu : api, permusuhan, penyakit dan kemelaratan.
  • Apabila Anda takut sesat maka jalan itu jangan Anda lalui.
  • Hanya pembohong saja yang mau makan harta anak yatim.
  • Senjata kepemimpinan adalah lapang dada.
  • Kematian ibarat panah yang diarahkan kepada Anda, dan umur Anda sekedar perjalanan panah itu kepada Anda.
  • Muliakanlah keluargamu karena mereka adalah sayap Anda untuk bisa terbang.
  • Sebaik-baik negeri ialah yang dapat menampung Anda dengan baik (terhormat).
  • Kalau penguasa berganti zaman pun berubah.
  • Serulah kepada yang ma’ruf (kebaikan) agar Anda menjadi walinya.
  • Jika memang harus ada fanatisme dan radikalisme, hendaklah keduanya itu diterapkan terhadap akhlak yang mulia dan amal perbuatan yang terpuji.
  • Tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada akal yang diperindah dengan ilmu, dan ilmu yang diperindah dengan kebenaran (siddiq) dan kebenaran yang diperindah dengan kebaikan dan kebaikan yang diperindah dengan takwa.
  • Barangsiapa menentang Hak (Kebenaran), dia pasti akan dikalahkan.
  • Ya Allah aku bersyukur Engkaulah Tuhanku karena Engkaulah yang Hak dan aku bahagia dengan kemuliaan Islam-Mu dan aku adalah hamba-Mu.
رَبَّنا أَفرِغ عَلَينا صَبرًا وَثَبِّت أَقدامَنا وَانصُرنا عَلَى القَومِ الكٰفِرينَ